lenterakalimantan.com, PELAIHARI – Musim kemarau di Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, membuat permintaan jasa pengantaran air bersih meningkat tajam. Kondisi ini terjadi seiring banyaknya sumur warga yang mulai mengering dan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan harian.
Sejumlah pelaku jasa pengantaran air bersih keliling mengaku mengalami lonjakan pesanan dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, dalam sehari mereka bisa melakukan belasan kali pengantaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Salah seorang pelaku jasa pengantaran air bersih di Kota Pelaihari, Hafi, mengatakan peningkatan permintaan sudah terasa sejak awal musim kemarau, namun mulai melonjak secara signifikan pada Agustus 2026.
“Pengantaran air bersih dari pagi sampai malam pukul 10.00 Wita. Hingga mencapai 17 kali pengantaran,” kata Hafi, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, permintaan paling banyak berasal dari wilayah Kota Pelaihari, seperti Kelurahan Sarang Halang, Desa Atu-Atu, hingga kawasan Karang Jawa.
Ia menjelaskan, pada awal musim kemarau jumlah pengantaran masih berkisar lima kali sehari, namun terus meningkat seiring berkurangnya sumber air warga.
“Kerja seperti ini kan musiman, saat musim kemarau. Untuk peningkatan ekonomi lumayan,” ujarnya.
Selain rumah warga, jasa pengantaran air juga melayani perumahan yang mengalami kekeringan pada sumur mereka.
“Sehari mengantar air bersih dua kali karena sumur di perumahan kering,” pungkasnya.
Dampak Keringnya Sumber Air Bersih Milik Warga
Sementara itu, warga Desa Atu-Atu, Erni, mengaku sudah lebih dari sebulan sumur di rumahnya mengering. Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-hari terganggu, sehingga ia harus menggunakan jasa pengantaran air bersih.
“Seminggu sekali meminta jasa pengantaran air bersih. Penggunaan air juga harus irit, paling cukup untuk bersih-bersih. Kalau untuk mandi, saya ke kantor karena sumurnya masih ada air,” ungkapnya.
Kondisi ini menunjukkan dampak musim kemarau tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga menambah beban ekonomi masyarakat karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kebutuhan air bersih.
Editor: Rizki


