lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Fenomena udara kabur atau haze kembali terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya jarak pandang serta kualitas udara akibat meningkatnya partikel polutan di atmosfer.
Kabut asap atau haze umumnya dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat musim kemarau panjang. Partikel halus hasil pembakaran biomassa, seperti lahan gambut, dapat menyebar luas dan bertahan lama di udara.
Baca juga: Udara Kabur Selimuti Paringin, Dinkes Balangan Waspadai Potensi Lonjakan ISPA
Selain faktor aktivitas manusia, kondisi cuaca seperti kekeringan ekstrem dan fenomena El Niño turut memperparah potensi munculnya kabut asap. Pola musim kemarau yang lebih panjang dan kering meningkatkan risiko kebakaran di berbagai wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa kabut asap berkaitan erat dengan peningkatan konsentrasi partikel halus (PM2.5) di udara. Semakin tinggi konsentrasi partikel tersebut, kualitas udara dapat masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Dampak Kesehatan dan Lingkungan
Fenomena haze tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Paparan partikel berbahaya dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi mata, batuk, hingga gangguan pernapasan.
Dalam banyak kasus, kabut asap juga memicu lonjakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Baca juga: Polda Kalsel Gelar Shalat Istisqa Berjamaah Bersama Forkopimda, Tokoh Agama, dan Masyarakat
Paparan jangka panjang terhadap polusi udara bahkan berisiko meningkatkan penyakit kronis, seperti gangguan paru-paru dan kardiovaskular.
Dari sisi lingkungan dan ekonomi, kabut asap dapat mengganggu aktivitas transportasi, menurunkan produktivitas sektor pertanian, hingga menyebabkan kerugian akibat terbatasnya aktivitas masyarakat.
Perlu Kewaspadaan dan Upaya Bersama
Menghadapi kondisi ini, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker, serta menjaga kesehatan.
Di sisi lain, upaya pencegahan karhutla menjadi kunci utama untuk menekan risiko haze. Penguatan pengawasan, edukasi masyarakat, serta sinergi lintas sektor diperlukan agar kejadian kabut asap tidak terus berulang.
Fenomena udara kabur menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan dan kesehatan saling berkaitan. Penanganan yang cepat dan kolaboratif diharapkan mampu menjaga kualitas udara tetap aman serta melindungi masyarakat dari dampak yang lebih luas.
Editor: Rizki


