lenterakalimantan, BARABAI – Dalam merespon sebuah insiden bencana, tentunya harus memiliki berbagai macam wawasan, keahlian, dan keterampilan. Diantaranya adalah para praktisi lapangan sangat penting memiliki wawasan jurnalisme bencana dan filantropi sosial guna efektifitas memberikan respon di lapangan.
Hal itu disampaikan, Rusmanadi Pemred TABIRkota dan Retno Sulisetiyani manager Yayasan Ruang Pelita Kalimantan saat membagikan dua wawasan itu kepada para personil Vertical Rescue Indonesia Regional Kalimantan Selatan (VRI Kalsel), instansi, relawan, dan masyarakat umum di Balai Rakyat Barabai.
Rusmanadi menyampaikan, disamping keterampilan penyelamatan/rescue, keterampilan jurnalistik pun juga tak kalah penting dimiliki oleh para personil, baik itu berupa tulisan, foto jurnalistik, serta kaidah-kaidahnya.
Menurutnya, wawasan yang dibagikannya diharapkan, respon para personil VRI bisa menjadi mata dan telinga masyarakat agar respon yang diberikan bisa lebih terarah dan berkelanjutan.
“Para praktisi lapangan ini, orang yang berada di lokasi. Dialah yang paling tahu bagaimana kondisi di lapangan dan bisa melaporkannya lebih efektif,” jelasnya, Rabu (25/5/2022).
Lebih lanjut, ia menjelaskan, disamping memberikan respon, para personil pun bisa memberikan data dan fakta dilapangkan, agar kelanjutan penanganan sama-sama bisa dikawal.
“Seperti halnya saat bencana banjir, banyak orang yang terjebak saat terjadi banjirnya saja. Sedangkan, pemulihannya banyak yang tak terekspose. Ini jadi PR kita bersama untuk mengevaluasinya,” jelasnya.
Disamping itu, dengan pengawasan tersebut, penanganan bencana pun dapat lebih terarah dan mitigasi bencana dapat berjalan lebih maksimal, yang diharapkan bencana serupa tidak terjadi lagi.
Kemudian, Retno Sulisetiyani manager Yayasan Ruang Pelita Kalimantan menambahkan, pentingnya memiliki wawasan filantropi sosial yakni agar gerakan kepedulian dapat lebih meluas.
Lebih lanjut, ia pun turut membagikan terkait cara menyampaikan galang dana online dengan isu sosial yang patut di ekspose dan perlu dibantu lebih lanjut.
Disamping itu, ia pun menyinggung terkait gerakan Ekspedisi 1.000 jembatan gantung yang pernah dilakukan VRI Kalsel di Desa Alat HST pasca banjir besar Januari 2021 silam yang hasilnya masih dapat dinikmati masyarakat setempat hingga kini.
“Melihat gerakan Ekspedisi 1.000 Jembatan Gantung di Desa Alat kemarin, kenapa tidak kita kembangkan saja lagi jembatan di titik lainnya, melalui gerakan ini. Ini mungkin bisa menjadi salah satu modal menunjang itu,” tambahnya.
Sementara itu, Eddy Supriatna, koordinator VRI Kalsel mengungkapkan, sebanyak 30 peserta dari berbagai latar belakang turut mengikuti kegiatan itu. Pihaknya pun membuka diri kepada siapapun untuk turut bergabung sama-sama belajar terkait wawasan bencana itu.
Eddy pun turut mengamini, wawasan ini sangat penting dimiliki para personilnya, agar ketika bertugas merespon di lapangan dapat memahami rambu-rambu yang boleh dilakukan, serta bisa mengembangkan gerakan sosial yang dihadapkan kebermanfaatannya bisa lebih meluas.
Disamping itu, Kosim salah satu peserta memberi masukan, agar seluruh peserta yang hadir, serta para awak media yang ada dimanapun agar dapat lebih leluasa melihat permasalahan yang ada di sekitar.
Kosim menyampaikan, dengan masifnya pemberitaan, isu-isu sosial yang ada disekitar diangkat, diharapkan beragam gerakan kepedulian pun dapat lebih berwarna dan lebih berdampak kepada masyarakat luas agar lebih baik lagi. (ID)


