• Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
      • Banjarmasin
      • Banjarbaru
      • Barito Kuala
      • Kabupaten Banjar
      • Balangan
      • Hulu Sungai Selatan
      • Hulu Sungai Tengah
      • Hulu Sungai Utara
      • Kotabaru
      • Tabalong
      • Tanah Bumbu
      • Tanah Laut
      • Sukamara
      • Tapin
    • KALIMANTAN TENGAH
      • Palangka Raya
      • Pulang Pisau
      • Seruyan
      • Murung Raya
      • Kotawaringin Timur
      • Barito Selatan
      • Kotawaringin Barat
      • Katingan
      • Kapuas
      • Gunung Mas
      • Barito Utara
      • Barito Timur
    • KALIMANTAN TIMUR
      • Samarinda
      • Bontang
      • Balikpapan
      • Penajam Paser Utara
      • Paser
      • Mahakam Ulu
      • Kutai Timur
      • Kutai Kartanegara
      • Kutai Barat
      • Berau
    • KALIMANTAN BARAT
      • Sambas
      • Mempawah
      • Sanggau
      • Ketapang
      • Sintang
      • Kapuas Hulu
      • Bengkayang
      • Landak
      • Sekadau
      • Melawi
      • Kayong Utara
      • Kubu Raya
      • Pontianak
      • Singkawang
    • KALIMANTAN UTARA
      • Bulungan
      • Nunukan
      • Malinau
      • Tarakan
      • Tana Tidung
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Reading: Mengenal Cacar Monyet bersama Promkes RSUD Kapuas
Share
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Font ResizerAa
  • Berita
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN BARAT
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN UTARA
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Opini
Search
  • Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
    • KALIMANTAN TENGAH
    • KALIMANTAN TIMUR
    • KALIMANTAN BARAT
    • KALIMANTAN UTARA
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Follow US
Copyright © 2024 Lentera Kalimantan By LIMBO. All Rights Reserved.
Home Mengenal Cacar Monyet bersama Promkes RSUD Kapuas
Berita

Mengenal Cacar Monyet bersama Promkes RSUD Kapuas

Riswan
Riswan
Share
5 Min Read
bersama Penyiar radio Nadia, dr. Erny, dan Popo Subroto, SKM
bersama Penyiar radio Nadia, dr. Erny, dan Popo Subroto, SKM
SHARE

lenterakalimantan.com, KUALA KAPUAS – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas, Kamis (25/8/2022) memberikan keterangan melalui Radio Siaran Pemerintah Daerah ( RSPD) terkait antisipasi dan pencegahan penyakit cacar monyet atau disebut monkeypox.

Hal ini dilatarbelakangi penyakit cacar monyet awalnya menyerang binatang (zoonosis) tetapi kemudian dapat menular pada manusia. Oleh karenanya sebagai antisipasi pihak RSUD diwakili dr. Erny Indrawati bersama pengelola promkes RSUD Kapuas Popo Subroto membahas penyakit satu ini.

Penyakit yang dikenal memiliki gejala seperti cacar api (Small Pox), yang telah dieradikasi (dinyatakan tidak ada lagi), tetapi memiliki gejala yang lebih ringan. Cacar monyet atau monkeypox ini awalnya menyebar di benua Afrika, terutama di Afrika tengah dan barat, kemudian menyebar ke negara-negara diluar Afrika.

Di negara-negara endemis, penularan kemanusia dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran, mengolah daging hewan liar, kontak langsung dengan cairan tubuh atau bahan lesi (luka), atau kontak tidak langsung dengan bahan lesi, seperti melalui benda yang terkontaminasi. Penularan dari manusia ke manusia dapat melalui kontak erat dengan droplet (percikan air ludah), cairan tubuh atau lesi kulit orang yang terinfeksi, atau kontak tidak langsung pada benda yang terkontaminasi,” paparnya.

Pihaknya menjelaskan, pengobatan untuk penyakit ini hanya bersifat simptomatis dan suportif, artinya obat yang diberikan hanya untuk menghilangkan keluhan dan meningkatkan daya tahan tubuh, hal ini dikarenakan belum ada pengobatan spesifik untuk virus cacar monyet.

Terkait dengan pencegahan guna mengurangi risiko penularan bagi pelaku perjalanan di negara endemis, yaitu dengan Hindari kontak langsung dengan hewan penular cacar monyet yang diduga terinfeksi cacar monyet, seperti hewan pengerat, hewan primata, baik hidup maupun mati, Hindari mengonsumsi atau menangani daging yang diburu dari hewan liar, Biasakan mengonsumsi daging yang sudah dimasak dengan benar, Gunakan APD lengkap saat menangani hewan yang terinfeksi, Pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit segera memeriksakan diri jika mengalami gejala dan menginformasikan riwayat perjalanannya.

“Penyebab penyakit cacar monyet adalah VIRUS Monkeypox (MPXV), yang merupakan virus DNA. Penularan kepada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan hewan ataupun manusia yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi oleh virus tersebut.Virus masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang luka/ terbuka (walau tidak terlihat), saluran pernafasan, selaput lender (mata hidung, mulut),” terangnya.

Selain itu untuk mengurangi risiko penularan bagi pelaku perjalanan di negara non-endemis (utamanya penularan dari manusia ke manusia), yaitu dengan cara menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, Hindari kontak tatap muka/ kontak fisik dengan siapa pun yang memiliki gejala atau barang yang terkontaminasi, Gunakan APD yang sesuai saat merawat penderita, Mengurangi kepanikan dan stigmatisasi, dengan pemahaman bahwa, cacar monyet merupakan penyakit bergejala ringan dengan tingkat kematian sangat rendah.

Gejala-gejala penyakit pada umumnya dapat diobati dan dapat sembuh dengan sendirinya tergantung imunitas penderita, serta Dukungan psikososial dapat disediakan bagi penderita selama perawatan dan setelah keluar dari ruang isolasi.

“Jika seseorang mengalami ruam, disertai demam atau sakit, mereka harus segera menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan setempat. Memberikan tambahan informasi tentang semua riwayat perjalanan, riwayat kontak seksual, riwayat kontak dengan hewan, sangat membantu dalam memutus rantai penularan penyakit ini,” bebernya.

Berdasarkan perkembangannya, pada tahun 1958 di Denmark ditemukan 2 (dua) kasus seperti cacar pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar ini dinamakan “Monkeypox”. Monkeypox pada manusia pertama kali ditemukan di Republik Demokratik Kongo (Zaire) pada tahun 1970, yang kemudian menyebar ke seluruh Afrika, dan pada akhirnya dikatakan sebagai penyakit endemik di negara-negara Afrika tersebut.

Pada tahun 2018, penyakit ini mewabah di negara Nigeria (Afrika), dilaporkan terdapat 116 kasus dengan 8 kematian, pada semua umur, dengan mayoritas dibawah 40 tahun.

Dijelaskan lebih lanjut, sejak bulan Mei 2022, cacar monyet menjadi penyakit yang menjadi perhatian kesehatan masyarakat global, karena telah dilaporkan muncul di negara – negara non endemis, antara lain Australia, Belgia, Perancis, Finlandia, Denmark, Ceko, Austria, Jerman, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia, Inggris, Swiss, Slovenia, Israel, Sudan, Uni Emirat Arab, Kanada, Argentina, Guyana, Amerika serikat (WHO per tanggal 29 Mei 2022).

Sementara di Indonesia diberitakan oleh Kementerian Kesehatan, bahwa pada tanggal 19 Agustus 2022 terdapat kasus cacar monyet pertama di Indonesia, yang menyerang seorang pria yang baru pulang dari Eropa barat.

Terpopuler

Honda Teladan Baru
Honda Teladan Baru Gelar Program Tebus Murah untuk Bantu Warga
KALIMANTAN TENGAH
Woow! Kopi Robusta Mangkara Dikembangkan di Tanah Laut
Berita
Hutan Galam Jadi Penambah Indahnya Panorama Alam Pantai JBG
Berita
Di Luar Areal Tambang, JBG Hijaukan DAS Tahura Seluas 3251 Hektar
Berita
Mehbob Menilai Kubu Muldoko Produksi Kebohongan Baru
Berita

You Might Also Like

BPKP Kalsel Lakukan Entry Meeting Evaluasi Perencanaan-Penganggaran di Pemkab Banjar

Kebakaran Kompleks Wildan Banjarmasin! 4 Rumah-Sekolah Hangus, 1 Meninggal

Kebakaran di Gang Syuhada, Pasangan Suami Isteri Alami Luka Bakar

Dealer Budiana Gelar Servis Kunjung Honda di Balai Riam

Gelar Buka Bersama, Pj Bupati Syamsir Sampaikan Momentum Pererat Tali Silaturahmi

Bupati Barito Utara Sambut Wakil Gubernur Kalteng Jelang Penutupan MTQH XXXIII

Pastikan Penguasaan Tanah yang Adil, Menteri Nusron Jadikan Reforma Agraria sebagai Solusi Utama

DP3A P2KB PMD Balangan Sosialisasikan Bahaya Bullying di SMA Negeri 1 Halong

Tingkatkan Kunjungan Wisata, Pemkab Balangan Launching Calender of Event 2024

DPRD Kotabaru Gelar RDP Terkait Kewajiban Plasma PT STP

TAGGED:KUALA KAPUAS
Share This Article
Facebook X Flipboard Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Bank Kalsel Raih Penghargaan Pada 27th Infobank Award. Bank Kalsel Raih Penghargaan Pada 27th Infobank Award
Next Article Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina. Kejuaraan Bulutangkis Walikota Cup Antar Desk Wartawan Se-Banjarmasin Tahun 2022 Resmi Bergulir

Latest News

Kemnaker Sinkronkan Pelatihan Vokasi dengan Industri KEK
Kemnaker Sinkronkan Pelatihan Vokasi dengan Industri KEK, 60 Ribu Kuota Pelatihan Disiapkan
Nasional April 25, 2026
PSDKU Teknik ULM di Tabalong Ditargetkan Dibuka 2027
Berita April 24, 2026
Film Kota Gaib: Alam Sebelah
Sutradara Tarmizi Abka Garap Film Kota Gaib: Alam Sebelah di Banjarmasin
KALIMANTAN SELATAN April 24, 2026
Ikhlas
Ikhlas.com Ekspansi ke Banjarmasin, Hadirkan Paket Umrah Terintegrasi dengan Maskapai
Ekonomi April 24, 2026
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Follow US
© 2026 Lentera Kalimantan. All Rights Reserved. Designed by HCD
  • INFO REDAKSI
  • Contact Us
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Kode Etik
  • SOP WARTAWAN
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?