lenterakalimantan.com, PARINGIN – Momentum hari Pahlawan 10 November ini tentunya banyak makna dan cerita didalamnya, salah satunya dalam hal mencapai kemerdekaan negeri ini oleh para pejuang kemerdekaan.
H Musa lelaki yang usianya menginjak usia 96 tahun, merupakan salah satu pejuang kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.
Mungkin tak banyak orang yang tahu tentang cerita haru yang dialami Kakek Musa semasa mudanya.
Kakek Musa merupakan tentara veteran asal Desa Timbun Tulang Kecamatan Batumandi Kabupaten Balangan.
Saat ditemui di kediamannya, Kakek Musa Kamis (10/10/2022) saat momentum hari pahlawan, ia membuka cerita terkait 79 silam saat ia berusia 17 tahun menjadi pejuang Republik Indonesia saat melawan penjajah.
Kala itu ia membeli es di sebuah tempat. Ternyata tempat tersebut sedang mengadakan rapat pembentukan organisasi gerakan tentara kemerdekaan.
Kemudian masuklah Musa ke organisasi tentara kemerdekaan tersebut. Selanjutnya, tugas Kakek Musa adalah sebagai penghubung untuk merekrut anggota organisasi pasukan kemerdekaan.
“Banyak yang tidak ingin bergabung karena takut ketahuan. Namun ada juga yang bergabung, terkumpulah sekitar 22 orang di dalam organisasi ini dan saudara Abu Bakar sebagai ketua,” terangnya.
Singkat cerita Veteran asal Balangan ini berkisah, ia pernah mengikuti dua kali perang melawan penjajah Belanda.
Persis tahunnya ia mengaku tidak ingat namun untuk dua tempat yang ia ikuti masih diingat hingga saat ini.
Dua tempat tersebut adalah, Awang di daerah Hulu Sungai Tengah (HST) kemudian di Danau Tarate Amuntai.
“Kami bertempur hanya menggunakan parang dan tombak, sementara Belanda menggunakan senapang. Kata para ulama saat itu, kalian adalah pejuang apabila berjuang melawan Belanda dan gugur berarti mati Syahid. Mendengar itu tentunya bersemangat,” ujarnya.
Sampai di sungai di Danau Terate airnya tidak bisa di minum bahkan oleh Hadangan (kerbau) . Karena sungainya berbau amis karena darah dari Belanda.
Kalimantan sendiri ujar kakek Musa, ketika Jakarta sudah merdeka di tahun 1945 masih dijajah oleh Belanda, hingga terpaut lima tahun.
Kakek Musa menjelaskan, pada tahun 1947 mereka memulai pelatihan tentara, dalam perjuangannya ada satu korban dari pasukan Kakek Musa yang terbunuh. Peluru senapan menembus kepala dari saudara Saman.
Lalu pada tahun 1950, Kalimantan Selatan mendapatkan kemerdekaannya dan tanpa ujian kakek Musa langsung menjadi Tentara Republik Indonesia.
Pangkat terakhirnya masih Pratu (prajurit satu) dan bertugas di Batalyon Batumandi Hulu Sungai Utara atau masuk dalam pertahanan TRI wilayah Kalimantan Selatan.
Perhatian pemerintah kepada para veteran di Kabupaten Balangan dikatakan Kakek Musa sangat baik. Setiap peringatan hari pahlawan dan kemerdekaan Indonesia Kakek Musa selalu diundang dan diberikan bantuan berupa dana.
“Gaji pensiunan veteran Rp1,6 juta, kalau hadir pada acara saya diberikan makan dan diberi uang Rp100 ribu,” ungkapnya. Perhatian juga diberikan oleh Dandim dan Koramil Batumandi dengan beberapa kali mereka datang untuk memberikan sembako.
Kakek Musa berpesan agar kemerdekaan jangan sampai disia-siakan, karena itu adalah perjuangan yang sangat berarti serta jangan sampai terpengaruh apapun untuk menghancurkan negeri tercinta ini.
Untuk kaum muda, ia berpesan agar jangan pernah melupakan sejarah dan para veteran yang masih hidup dan pejuang yang telah gugur, serta banyak bersyukur dengan kemerdekaan.yamg telah diraih, karena meraih kemerdekaan itu adalah nyawa taruhannya.


