lenterakalimantan.com, KOTABARU – Meski kalah dari Persetala pada puncak final Liga 3 Zona Kalsel, Pelatih Kotabaru FC Abdul Karim tetap acung jempol dengan anak asuhnya.
Persetala sebelumnya merebut kemenangan atas Kotabaru FC, dengan skor 2-0 yang berlaga di Stadion Pertasi Kencana, Pelaihari, Tanah Laut, Senin (30/1/2023) sore.
Memberikan jempol kepada anak asuhnya ini bukan tanpa alasan, setelah dirinya menganalisa jalannya pertandingan bahwa adanya keputusan wasit yang ia nilai merugikan Kotabaru FC.
Begitu juga dengan permainan dari Persetala, namun yang ia sesalkan pada laga ini adalah kepemimpinan wasit. Karena ada beberapa keputusan wasit yang akhirnya ia nilai merugikan timnya.
“Ini kan final kalau sampai mental wasit dirusak, wasit seperti ini hancur sepakbola ke depan,” ujar pelatih Kotabaru FC, Abdul Karim dengan nada kesal.
Sambungnya, “Siapa pun tuan rumah tapi yang netralitas,” tegasnya
Oleh karena itu Abdul Karim menyarankan kepada pihak Asosiasi Provinsi (Asprov) Kalsel, agar sebaiknya mengambil wasit dari luar kota atau kalimantan dan juga tidak bermain di salah satu home base, agar kelihatan netral dan hal itu berdasarkan aturan.
“Saya sebagi pelatih sangat kecewa dengan kepemimpinan wasit. Kita tidak menyalahkan kedua kesebelasan. Pemainnya semua istimewa,” kata dia.
Sementara itu, pihak Asprov Kalsel sendiri memastikan lanjutan putaran nasional liga 3 itu tidak ada.
Namun kata Sekretaris Asprov PSSI Kalsel, Baktiansyah mengatakan bagi Asprov yang melaksanakan diberikan slot ke babak nasional di musim kompetisi 2023, sebanyak 16 tim.
Adapun terkait jalannya pertandingan sempat memanas, menurut Baktiansyah itu hal biasa dan itu kata dia seni dalam sepakbola.
“Biasa dalam sepakbola ada gesekan, itu seni sepakbola,” ujarnya.
Terkait adanya petugas Satpol PP masuk ke dalam lapangan, ia melihat tujuannya sama hanya untuk mengamankan pertandingan, hanya persepsinya yang berbeda.
Perlu diketahui pertandingan sempat memanas, hingga wasit mengeluarkan dua kartu merah untuk kedua tim.


