lenterakalimantan.com, PELAIHARI – Tak pernah dibayangkan oleh pasangan suami istri (pasutri), yakni Nasrullah (23) Siti Maisyarah (25) anaknya lahir dengan kondisi usus di luar perut.
Pasutri warga Desa Makmur Jaya RT 05, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, tetap berbahagia.
Bayi yang mereka tunggu-tunggu lahir pada 28 April 2023 di Rumah Sakit (RS) Borneo Citra Medika (BCM) Pelaihari, meski memiliki kelainan fisik bagian saluran pencernaan buah hatinya keluar dari dalam perut, sehingga membuat hati semua orang merasa terenyuh sewaktu melihatnya.
Siti Maisyarah menceritakan, awal mula mengetahui bahwa bayinya yang dikandungnya memiliki kelainan fisik setelah mendapat hasil USG pemeriksaan di klinik terdekat Sungai Danau waktu usia kandungan 7 bulan.
“Saya sempat takut dan khawatir setelah melihat hasil USG, saya coba tenangkan. Disarankan banyak istirahat dan menjaga pola makan. Selama mengandung anak tidak ada rasa sakit dirasakan,” kata Siti saat di RS BCM Pelaihari, Selasa (20/6/2023).
Setelah kandungan usia 8 bulan Siti dan suaminya membawa persalinan ke RS BCM Pelaihari.
Siti mengaku senang serta gembira, setelah melihat bayi lahir pada pada 28 April 2023 dengan selamat, meski persalinan dengan cara operasi caesar.
Sedangkan si bayi mengalami kelainan, lahir dengan usus atau organ pencernaan berada diluar tubuh.
“Ini adalah anak pertama saya, saya bersyukur anak saya selamat dan sudah sehat, rencana besok sudah bisa dibawa pulang, selama di RS BCM sudah 54 harian. Anak saya ini akan diberi nama Mariam Nur Assyifa,” tutupnya.
Direktur RS BCM dr Singgih Sidarta, Sp.OG (K) mengatakan, persalinan dengan kasus seperti ini jarang bisa diselamatkan.
Karena bayi mengalami lubang dalam perut, biasa disebut di kedokteran Gastroschisis.
Faktor penyebab bayi mengalami kelainan seperti ini belum jelas diketahui, atau bisa saja faktor dari orang tua yang sering mengkonsumsi alkohol, perokok atau bisa saja usia pasangan pernikahan terlalu muda.
dr Singgih menjelaskan, kasus Gastroschisis seperti ini untuk dikota besar cukup lumayan tinggi.
Akan tetapi di daerah agak susah jarang ditemukan, 38 persen angka kematian bayi meningkat pasca persalinan, sedangkan tingkat kesembuhannya dibawah 5-10 persen.
“Bayi lahir dengan berat 1,6 kg dirawat di RS BCM selama 54 hari, sekarang berat badan bayi naik menjadi 2,5 kg, ini sudah siap orang tuanya merawat di rumah,” kata dr Singgih usai acara penyerahan bayi di RS BCM Pelaihari.
Menurut dr Singgih, secara normal persalinan kasus seperti ini sangat memakan biaya cukup besar lebih dari Rp100 juta, karena memakan waktu cukup lama serta tingkat kerumitannya sangat tinggi.
“Penanganan operasi sampai dua kali, belum lagi perawatan khusus bayi. Semua biaya persalinan di RS BCM ditanggung oleh BPJS Kesehatan,” pungkasnya.


