lenterakalimantan.com, PELAIHARI – Ribuan hektare tanaman padi di Kabupaten Tanah Laut terancam gagal panen imbas hujan yang tak kunjung turun mengakibatkan sawah kekeringan.
Joko Warsito pegawai Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) pada Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalsel mengatakan, ada sekitar 4.800 hektare tanaman padi milik petani di Tanah Laut mengalami kekeringan meningkat sejak setengah bulan lalu.
” Kerusakan pada tanaman padi dampak dari sawah yang kering, tergolong tingkat sedang dan apabila nanti ada hujan padinya dapat diselamatkan,” kata Joko Wuryanto kepada Wartawan lenterakalimantan.com, Kamis (15/6/2023).
Ia menambahkan, umumnya petani di Kabupaten Tanah Laut, menanam padi jenis lokal maka kebanyakan mengandalkan tadah hujan.
Joko, memprediksi bakal jadi petani mengalami penurunan produksi padi di angka 50 persen. Sebab hasil penelitiannya, sawah-sawah milik warga yang mengalami tingkat kekeringan di atas sedang.
“Luasan tanaman padi sekitar 477 hektar, masuk tingkat kekeringan sedang,” ucapnya.
Secara rinci Joko menyebutkan, wilayah terbesar tanaman padi tertimpa kekeringan ada di
Kecamatan Kurau, tanaman padi kekeringan seluas 1865 hektare.
Kemudian, Kecamatan Bumi Makmur seluas 510 hektar dan Kecamatan Bati-Bati 526 hektare.
“Kejadian serupa seperti ini pada tahun 2018, akan tetapi lebih parah tahun 2023,” ujarnya.
Menurut Joko, upaya petani dalam menghadapi musim kemarau seperti ini, perlu membuat pencegahan kekeringan sawah jangka panjang.
Selain itu tutur Joko, petani mesti peka terhadap dampak perubahan iklim. Penanaman padi bisa dirubah tidak menggunakan varietas panen jangka panjang diganti dengan varietas jangka pendek.
Ia tambahkan, menghadapi
musim kemarau seperti ini, petani sudah siap dengan Pompa Air fungsinya menyedot air buat mengalirkan ke pesawahan. Akan tetapi perlu diperhatikan dan dibantu dengan pembuatan embung.
Penempatan Embung kudu yang strategis supaya mampu digunakan secara maksimal oleh petani.


