lenterakalimantan.com, Tanpa disadari, kehidupan kita saat ini sudah dikerumuni dan dipengaruhi oleh Kecerdasan Buatan (AI). AI telah meresap ke hampir semua aspek kehidupan kita. Meskipun demikian, kehadirannya masih menimbulkan berbagai pandangan di masyarakat. Ada yang menerimanya dengan baik, sementara ada yang cenderung menolak.
Jika kita melihat ke belakang, reaksi masyarakat terhadap setiap teknologi baru cenderung serupa. Beberapa orang menyambutnya dengan sukacita dan optimisme, percaya bahwa teknologi baru akan membawa perbaikan pada kehidupan manusia di masa depan. Namun, di saat yang bersamaan, ada juga yang menyambutnya dengan ketakutan, melihat teknologi baru sebagai ancaman terhadap kehidupan mereka.
Reaksi serupa terjadi ketika huruf dan tulisan pertama kali ditemukan, begitu pula saat koran, televisi, atau internet pertama kali diperkenalkan. Beberapa melihatnya sebagai ancaman, sementara yang lain menganggapnya sebagai peluang untuk merubah nasib dan kehidupan. Namun, seiring perkembangan teknologi, semuanya diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Menghadapi realitas seperti ini, kita perlu merenung dan mempertimbangkan cara terbaik untuk bersikap terhadap perkembangan AI. Sebagaimana halnya dengan teknologi lainnya, kecerdasan buatan akan terus berkembang. Tidak mungkin untuk menghentikan perkembangannya. Meskipun ada suara kekhawatiran dan penolakan dari sebagian masyarakat, namun hal tersebut tidak dapat mencegah laju perkembangan teknologi ini.
Bahkan, perkembangan AI akan berlangsung dengan cepat karena adanya persaingan bisnis dan politik yang mendorongnya. Para pengembang AI yang bersaing akan berlomba-lomba untuk mencapai posisi terdepan. Karena siapa yang pertama kali mengembangkan dan mendominasi pasar, akan menjadi pemain utama dalam bisnis kecerdasan buatan dan pada gilirannya, mengendalikan peran utama dalam dunia di masa depan.
Perkembangan teknologi AI adalah bagian kecil dari evolusi kehidupan, bahkan bisa disebut sebagai revolusi. AI akan berperan dalam seleksi alam, menentukan organisme mana yang dapat bertahan hidup. Dalam konteks manusia, AI akan menyaring jenis manusia mana yang akan ada di masa depan.
Charles Darwin, tokoh utama teori evolusi, menyatakan bahwa organisme yang berhasil melewati seleksi alam dalam proses evolusi adalah yang mampu beradaptasi. Kunci utamanya adalah adaptasi. Kepintaran, kekayaan, dan kekuatan bukanlah cukup tanpa kemampuan beradaptasi.
Bagaimana beradaptasi dengan AI?
Untuk beradaptasi dengan Kecerdasan Buatan (AI), langkah pertama adalah tetap terbuka dan siap untuk belajar. Kita menerima kehadiran AI sebagaimana kita menerima kehadiran teknologi lainnya. Kita berusaha memahami apa dan bagaimana AI bekerja, memahami manfaatnya, serta potensi dampak dari kehadiran AI. Selain itu, kita juga perlu melakukan mitigasi risiko yang mungkin timbul.
Selanjutnya, kita juga perlu mengembangkan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi. Setiap teknologi baru menuntut pemahaman dan keterampilan baru. Meskipun teknologi baru dapat menggantikan beberapa jenis pekerjaan, namun ia juga menciptakan peluang pekerjaan baru. Keberhasilan kita dalam menghadapi perubahan ini bergantung pada kemampuan untuk mengembangkan keterampilan yang sesuai dan relevan.
Cara terbaik untuk mengembangkan keterampilan itu adalah dengan mencoba menggunakan AI secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Menggunakan AI secara aktif merupakan cara terbaik untuk mengenali, memahami, dan menjadi akrab dengan teknologi ini. Dengan berinteraksi langsung, kita dapat dengan cepat beradaptasi dan terbiasa dengan kemajuan teknologi. Selain itu, penggunaan AI memungkinkan kita untuk mengevaluasi kelebihan dan kelemahannya, memahami prinsip kerjanya, serta meningkatkan rasa percaya diri dalam mengadopsi teknologi tersebut.
Yang tidak kalah penting adalah melakukan inovasi terhadap keberadaan AI. Inovasi kita lakukan untuk memberikan nilai tambah terhadap produk-produk teknologi yang ada. Inovasi tidak selalu harus dilakukan dengan memodifikasi jenis AI itu sendiri, namun dapat dalam cara kita menggunakannya. Misalnya, media sosial pada awalnya dibuat sekadar untuk memfasilitasi komunikasi dan interaksi sosial. Namun, dalam perkembangannya, ia dapat digunakan sebagai sarana untuk berjualan, sekolah, dan sebagainya.
Inovasi dalam penggunaan AI dapat dilakukan sesuai dengan bidang profesi kita masing-masing. Seorang pendidik dapat mengembangkan penggunaan AI sesuai dengan pekerjaannya, misalnya dengan mengkombinasikan satu jenis AI dengan jenis AI yang lain sehingga menghasilkan manfaat yang lebih sempurna. Adanya inovasi ini memungkinkan munculnya berbagai solusi kreatif untuk menjawab berbagai permasalahan yang kita hadapi.
Dalam bagian akhir tulisan ini, saya hendak menegaskan bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan mustahil untuk kita dihindari. Karenanya, cara yang terbaik adalah kita berusaha untuk beradaptasi dengannya.
Di satu sisi, kita perlu mempertimbangkan resiko-resiko yang mungkin terjadi sebagai akibat kehadiran AI. Sementara di sisi lain, kita juga perlu mempelajari cara kerjanya, juga mencari potensi peluang agar AI dapat membantu menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kita berusaha untuk mengendalikan agar keberadaan AI ini dapat membuka gerbang pintu masa depan yang lebih baik.
Sartana, M.A.
Dosen Psikologi Sosial Departemen Psikologi Universitas Andalas












