lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Jauh di kawasan delta Sungai Barito, tersembunyi surga seluas 3,9 hektare. Pulau Curiak namanya, salah satu situs Geopark Meratus yang telah mendunia.
Pulau Curiak mengandung kekayaan asli Kalimantan, yaitu mangrove rambai dan bekantan.
Pepelingasih gabungan Bakula (Banjarmasin, Banjarbaru, Barito Kuala dan Banjar) bekerja sama dengan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Foundation mengikuti Global Nature Conservation School bertemakan “Selamatkan Bekantan Selamatkan Peradaban Manusia”.
Acara yang bertujuan mengenal konservasi bekantan dan mangrove rambai ini bertempat di Geopark Meratus Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, pada Minggu (23/2/2025).
“Global Nature Conservation School yang berlangsung di Pulau Curiak menggunakan sistem yang cukup unik karena berhasil memadukan pendidikan non-formal dengan pengalaman yang langsung bersua dengan alam,” ujar Ketua Pepelingasih Banjarmasin, Muhammad Amin Hasani.
Acara ini berlangsung dari pagi sampai sore. Sebanyak 12 peserta dengan antusias mengenal karakteristik bekantan serta ekosistem khusus di wilayah Konservasi Curiak yang mengandung serangga, biawak, ular, yang bisa hidup di wilayah air dengan PH asam.
“Pulau Curiak adalah ekosistem asli Kalimantan, akan tetapi wilayah ini sempat menjadi lahan pertanian yang dibuka oleh warga. Akhirnya, dibangun lagi menjadi hutan buatan yang bisa ditinggali hewan asli Kalimantan, Bekantan,” ujar Arifin Ilham selaku peserta sekaligus Kepala Bidang Pendidikan dan Edukasi Pepelingasih Banjarmasin.
Di Pulau Curiak, terdapat rumah tinggal untuk Bekantan yang jumlahnya kini 52 ekor. Proses perkembangbiakan Bekantan dipengaruhi juga oleh iklim, sebab itu jenis kera itu mencari tempat tinggal yang lebih teduh dan berkelompok.
Bekantan juga diberikan pakan khusus seperti daun rambai, pisang mentah.
“Pada tahun 2010 masih terdapat 9 ekor Bekantan. Tahun 2025 berkembang biak menjadi 52 ekor,” ujar Arifin.
Selain mempelajari karakteristik ekosistem dan Bekantan, peserta juga menanam mangrove rambai, tumbuhan khas lahan basah. Penanaman bibit mangrove ini juga dihadiri oleh masyarakat sekitar.
Arifin menjelaskan Mangrove Rambai cocok di air dengan tingkat salinitas rendah atau tingkat asin yang tinggi.
“Mangrove rambai memiliki akar penunjang atau serabut untuk menahan abrasi pesisir sungai agar air sungai tidak mudah mengalir dan wilayah sungai tidak melebar. Di wilayah perkotaan, mangrove ini menjadi siring alam dan menguatkan pondasi tanah. Tanpa mangrove, tanah di titian sungai lebih cepat ambruk,” tambah Arifin.
Arifin menekankan peran masyarakat terkhusus pemuda untuk lebih memahami dan mengambil andil dalam pelestarian lingkungan, mengingat akhir-akhir ini lebih sering terjadi banjir di Kalsel serta bencana ini memberi dampak yang serius.
Menurutnya, salah satu alasan mudahnya terjadi banjir adalah karena ekosistem asli yang mempunyai ketahanan banjir telah tergilas.
“Contohnya Banjarmasin adalah ekosistem lahan basah, selalu terendam oleh air. Karena itu, kita memerlukan mangrove yang dapat menyerap air, bahkan 80% berat badannya adalah air. Makin besar mangrove maka makin besar air yang bisa ditampung,” ujarnya.
Arifin berpesan agar masyarakat untuk mencoba memahami ekosistem asli Banjarmasin dan Kalsel. Sesuai pengalamannya sebagai Kepala Bidang Pendidikan dan Edukasi Pepelingasih Banjarmasin, ia menilai edukasi bisa dimulai dari pemuda terlebih dahulu untuk didorong kepeduliannya akan lingkungan.
Sejalan dengan Arifin, Amin menjelaskan keterlibatan Pepelingasih Banjarmasin dalam menjaga lingkungan tidak terhenti sampai di kegiatan tertentu saja.
“Melainkan ada banyak kegiatan untuk menciptakan bumi yang lebih indah bagi generasi muda penerus bangsa,” ujarnya.
Ia melanjutkan peran pemuda dalam konservasi dan perlindungan lingkungan tentunya sangat diperlukan. Mulai dari sisi keilmuannya seperti kajian mengenai isu lingkungan lalu bahu-membahu turun ke lapangan.
“Kita harus berkolaborasi dan membangun semangat kerja sama tanpa memandang golongan. Harapannya, para pemuda yang tadinya kurang peduli terhadap lingkungan atau masih terkotak-kotakkan dalam pergerakan dapat turut aktif dalam upaya perlindungan lingkungan,” tuntas Amin.
Editor: Rian


