lenterakalimantan.com, BANJARMASIN — Dunia akademik Indonesia tengah berhadapan dengan ancaman serius akibat maraknya praktik joki tugas di kalangan pelajar dan mahasiswa. Fenomena ini tidak hanya merusak integritas akademik, tetapi juga menumbuhkan budaya instan yang berpotensi melemahkan karakter generasi muda.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melakukan penelitian terkait praktik joki tugas. Dari hasil wawancara mendalam, mereka menemukan berbagai motif penggunaan jasa joki. Antara lain keterbatasan waktu, dorongan pribadi, kendala teknis dalam pengerjaan tugas, kemudahan akses ke penyedia jasa, hingga normalisasi praktik joki di lingkungan pergaulan.
“Banyak yang menganggap joki tugas sebagai hal biasa. Padahal ini bukan hanya soal tugas selesai, tetapi juga soal moral dan integritas,” ujar Ahmad Syauqi, Ketua Tim PKM-RSH Joki Tugas, Rabu (15/10/2025).
Selain merugikan secara akademik dan finansial, praktik ini juga memicu dampak psikologis. Beberapa responden mengaku merasa bersalah, cemas, gugup, dan takut setelah menggunakan jasa joki meski awalnya merasa lega karena tugas terselesaikan.
Untuk memahami justifikasi perilaku ini, tim menggunakan teori moral disengagement, yakni mekanisme psikologis yang membuat seseorang membenarkan tindakan yang sebenarnya melanggar nilai moral. Misalnya, menyebut penggunaan joki sebagai “mendelegasikan tugas” atau merasa tidak bersalah karena banyak orang melakukan hal serupa.
Dosen pendamping tim, Muhammad Abdan Shadiqi, S.Psi, menilai hasil riset ini dapat menjadi dasar kebijakan dalam menekan praktik joki tugas.
“Ada faktor-faktor yang dapat menghentikan praktik ini, seperti kesadaran pribadi, dukungan kebijakan dan sistem pendidikan yang kuat, serta pengaruh lingkungan positif,” jelasnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa rantai budaya joki tugas masih dapat diputus. Melalui kesadaran moral, dukungan sosial, dan kebijakan tegas, dunia pendidikan Indonesia dapat kembali menegakkan integritas akademik. Budaya belajar yang sehat menjadi kunci mencetak generasi muda yang berdaya saing dan bermoral tinggi.
Editor: Rizki


