lenterakalimantan.com, JAKARTA – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) H. Rudy Mas’ud (Harum) menegaskan komitmen Kaltim untuk menjadi motor utama dalam mewujudkan kemandirian energi nasional sekaligus penggerak transisi energi hijau.
Dalam paparannya di Leadership Forum: Pilar Nusantara Penopang Asta Cita yang digelar CNN Indonesia di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (14/10/2025), Rudy menekankan posisi strategis Kaltim sebagai penopang utama ketahanan energi Indonesia.
“Kaltim sudah lebih dari 50 tahun menyalakan energi untuk Indonesia. Bahkan jauh sebelum merdeka, bangsa Kutai sudah bekerja sama dengan Belanda memproduksi minyak bumi pada 1897. Tahun 1903, minyak pertama kali keluar dari Tarakan dan Sanga-Sanga,” ungkap Rudy di hadapan para pemimpin daerah dan tokoh nasional.
Rudy menjelaskan, hingga kini Kaltim masih menjadi tulang punggung energi nasional dengan produksi 53 ribu barel minyak per hari dan 1,1 juta kaki kubik gas per hari. Produksi itu diproyeksikan meningkat menjadi 100 ribu barel minyak dan 1,8 juta kaki kubik gas per hari pada 2028–2029.
“Ini anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia. Tapi kami berharap daerah penghasil seperti Kaltim diberi kewenangan lebih besar dalam mengelola nilai tambahnya,” tegasnya.
Lebih dari 50 persen atau sekitar 437 juta ton dari total produksi batu bara nasional sebesar 836 juta ton per tahun berasal dari Kaltim. Rudy menilai kontribusi besar ini perlu diimbangi dengan kebijakan yang memberi ruang lebih luas bagi daerah dalam mengembangkan industri energi turunan.
Selain itu, ia menyoroti tantangan pemenuhan kebutuhan energi domestik, terutama untuk sektor pembangkit listrik independen (Independent Power Plant).
“Kebutuhan batu bara nasional sekitar 150 juta ton per tahun, sebagian besar dari Kalimantan. Namun tanpa infrastruktur yang memadai, sulit bagi daerah menggerakkan ekonomi secara optimal,” ujarnya.
Gubernur juga menyebut pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2024 mencapai 6,17 persen, dengan target jangka menengah 8 persen. “Kuncinya adalah infrastruktur kuat agar uang berputar dan ekonomi tumbuh,” katanya.
Dalam konteks transisi energi, Rudy menyebut Kaltim siap menjadi pusat pengembangan energi baru terbarukan (EBT), khususnya biodiesel dan biofuel. Dengan produksi 4,8–5,2 juta ton crude palm oil (CPO) per tahun, Kaltim diyakini mampu menjadi pemain utama dalam energi hijau.
“Kalau kelapa sawit sampai di-banned dunia, justru bisa jadi berkah. Dari situ kita bisa hasilkan energi biodiesel sendiri,” ujarnya optimistis.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa cadangan energi nasional masih lemah.
“Saat ini cadangan energi operasional kita hanya mampu bertahan 18–22 hari. Artinya, ketahanan energi nasional kita masih nol,” ungkapnya.
Rudy menambahkan, Kaltim baru memanfaatkan 1,5 juta hektare dari total 3 juta hektare lahan sawit. Jika potensi ini dioptimalkan bersama daerah lain seperti Riau dan Sumatera, ia yakin Indonesia bisa mandiri energi.
“Kalau potensi sawit ini digabung, saya yakin dunia bisa kita kendalikan dari energi berbasis sawit,” katanya penuh semangat.
Menutup paparannya, Gubernur Rudy mengingatkan bahwa masa depan Indonesia tak boleh hanya bergantung pada sumber daya alam tak terbarukan.
“Bangsa yang besar bukan dari tambangnya, tapi dari ladang-ladang pangannya. Energi sejati kita ada di situ di pangan, di sawit, dan sumber daya terbarukan yang bisa kita kelola sendiri,” pungkasnya.


