lenterakalimantan.com, MARTAPURA – Banjir yang masih melanda wilayah Martapura berdampak serius terhadap mata pencaharian warga, khususnya pengungsi asal Desa Bincau yang kini menempati lokasi pengungsian di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar. Sejumlah warga mengaku kehilangan penghasilan, bahkan tidak dapat bekerja sama sekali selama banjir belum surut.
Rosanti, salah seorang pengungsi, mengungkapkan bahwa banjir sangat memengaruhi pekerjaannya sebagai perajin peronce kembang. Ia kesulitan memperoleh bahan baku karena banyak kebun bunga terendam air, sehingga harga bunga—terutama melati—mengalami kenaikan.
“Beberapa kebun terendam banjir, harga melati jadi naik, sehingga banyak pesanan terpaksa ditolak,” ujar Rosanti, Selasa (13/1/2026).
Dalam kondisi normal sebelum banjir, Rosanti mampu menyelesaikan hingga 10 pesanan bunga pengantin setiap hari. Namun, sejak banjir melanda, jumlah pesanan yang bisa dikerjakannya menurun drastis.
“Kalau normal sehari bisa mengerjakan sekitar 10 pesanan, sekarang paling hanya satu atau dua pesanan saja,” katanya.
Dampak serupa juga dirasakan Hariyadi, warga Desa Bincau yang berprofesi sebagai petani. Ia mengaku banjir menyebabkan lahan pertaniannya tidak dapat dikelola. Sejumlah tanaman yang menjadi sumber penghasilannya, termasuk bunga melati, terendam dan tidak bisa dipanen.
“Kebun tidak bisa dipanen lagi. Kalau air sudah surut nanti harus menanam bibit dari awal,” ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, Hariyadi mengaku tidak memperoleh penghasilan selama banjir berlangsung. Padahal, sebelum banjir, pendapatan hariannya bisa mencapai sekitar Rp100 ribu dari hasil pertanian.
Para pengungsi berharap banjir segera surut agar mereka dapat kembali ke rumah dan melanjutkan aktivitas ekonomi seperti sediakala.
“Semoga air cepat surut supaya kami bisa segera pulang,” harap Hariyadi.
Editor: Muhammad Tamyiz


