Hujan dengan intensitas tinggi masih mengguyur berbagai wilayah Indonesia sejak awal 2026. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu kekhawatiran terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Situasi tersebut membuat publik mempertanyakan kapan musim kemarau akan mulai terjadi. Menjawab hal itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan proyeksi peralihan musim hujan menuju kemarau sepanjang 2026.
Puncak Musim Hujan Masih Berlangsung
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa puncak musim hujan 2025/2026 terjadi secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia.
“Puncak musim hujan umumnya berlangsung pada periode November–Desember 2025 hingga Januari–Februari 2026,” ujarnya.
Pada Januari–Februari 2026, sebanyak 276 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 39,5 persen wilayah Indonesia mengalami puncak musim hujan. Wilayah tersebut meliputi bagian selatan Jambi dan Bengkulu, Sumatera Selatan bagian timur, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Timur, sebagian Sulawesi Utara dan Gorontalo, Maluku, Papua Barat, serta sebagian besar Papua.
Sementara itu, sekitar 104 ZOM atau 14,9 persen wilayah lainnya diperkirakan baru mencapai puncak musim hujan pada Maret hingga Juni 2026, terutama di Sulawesi bagian tengah, timur, dan selatan, serta sebagian Maluku.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menambahkan bahwa curah hujan dari Januari hingga Maret 2026 masih tergolong tinggi. Bahkan, pada Maret curah hujan di sejumlah wilayah, khususnya Jawa Tengah, berpotensi masuk kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Potensi Cuaca Ekstrem Masih Mengintai
BMKG juga mengingatkan potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyebut kemunculan bibit siklon tropis 97S turut meningkatkan peluang hujan lebat hingga sangat lebat, terutama di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Kondisi ini diperkuat oleh kombinasi sirkulasi siklonik dan monsun dingin Asia yang membentuk daerah konvergensi angin di wilayah selatan Indonesia, mulai dari Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
BMKG pun mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk sejumlah wilayah, termasuk Sumatera, Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, tanah longsor, serta gangguan aktivitas akibat hujan lebat dan angin kencang.
Meski demikian, hingga awal Januari 2026 BMKG mencatat belum ada provinsi yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari 30 hari. Beberapa wilayah memang mengalami hari tanpa hujan hingga 25 hari, namun masih dalam kategori terkendali.
Awal Musim Kemarau Tidak Serentak
BMKG menegaskan bahwa peralihan musim hujan ke kemarau terjadi secara bertahap dan tidak serentak di seluruh Indonesia. Berdasarkan proyeksi klimatologis, fase transisi diperkirakan mulai berlangsung pada akhir Februari hingga Maret 2026.
Sebanyak 12 ZOM atau sekitar 1,7 persen wilayah bahkan telah memasuki musim kemarau lebih awal sejak September hingga Desember 2025, terutama di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
Wilayah yang diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Februari 2026 antara lain pesisir timur Aceh, Sumatera Utara bagian utara dan timur, Riau bagian utara, Kepulauan Riau bagian barat, sebagian Sulawesi, Maluku, serta pesisir utara Papua Barat Daya.
Sementara itu, sekitar 46 ZOM atau 6,6 persen wilayah lainnya baru diprediksi memasuki musim kemarau pada Mei 2026, seperti pesisir Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau.
Untuk periode Juli hingga September 2026, sebagian wilayah Indonesia diperkirakan telah memasuki musim kemarau penuh. Curah hujan sangat rendah berpeluang terjadi di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, disertai penurunan kelembapan udara dan peningkatan suhu pada siang hari.
Iklim 2026 Diprediksi Normal
Berdasarkan analisis BMKG menggunakan perhitungan fisis dan pemodelan kecerdasan buatan, kondisi iklim Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan berada pada kategori Normal.
Curah hujan tahunan diprediksi berkisar antara 1.500 hingga 4.000 milimeter per tahun. Beberapa wilayah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah bagian tengah, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi tengah, Papua, serta pesisir barat Sumatera, bahkan berpotensi mencatat curah hujan di atas 4.000 milimeter per tahun.
BMKG juga mencatat fenomena La Nina lemah masih terjadi pada akhir 2025 dengan indeks ENSO -0,77 dan diperkirakan bertahan hingga Maret 2026 sebelum bergerak menuju fase Netral hingga akhir tahun.












