lenterakalimantan.com, MARATUA – Pulau Maratua kembali menjadi panggung pembuktian kebijakan konektivitas Kalimantan Timur. Kunjungan kerja Gubernur Kaltim H. Rudy Mas’ud, Jumat (16/1/2026), menyorot langsung persoalan klasik wilayah terluar: keterbatasan akses transportasi, infrastruktur dasar, dan layanan publik.
Kunjungan dua hari ini berlangsung bersamaan dengan penerbangan komersial perdana Wings Air rute Berau–Maratua. Meski dinilai sebagai terobosan, kehadiran rute udara baru tersebut masih menyisakan pertanyaan soal keberlanjutan, frekuensi penerbangan, serta keterjangkauan harga bagi masyarakat lokal.
Selain agenda keagamaan melalui Safari Jumat di Masjid Babussalam, Gubernur dijadwalkan meninjau SMA Negeri 9 Maratua. Kondisi sekolah dan fasilitas pendidikan menjadi indikator penting sejauh mana perhatian pemerintah menjangkau pulau-pulau terluar, tidak hanya destinasi wisata.
“Selain sekolah, perhatian juga difokuskan pada kondisi infrastruktur jalan di Maratua,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim, Muhammad Faisal.
Pada Sabtu (17/1/2026), rombongan Gubernur akan meninjau langsung kawasan wisata Maratua, Kakaban, dan Derawan. Namun, di balik potensi pariwisata kelas dunia, tantangan akses laut dan keterbatasan fasilitas pelabuhan masih menjadi keluhan utama masyarakat setempat.
Kepulangan rombongan melalui jalur laut menggunakan speedboat disebut sebagai bagian dari evaluasi rute transportasi yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas warga. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan kebijakan tidak berhenti pada laporan administratif, melainkan berbasis pengalaman lapangan.
“Kami ingin melihat langsung layanan jalur laut yang selama ini digunakan masyarakat,” kata Faisal.
Kunjungan ini diharapkan tidak berhenti pada simbol kehadiran pemerintah, tetapi berujung pada kebijakan konkret dan berkelanjutan agar Maratua tidak hanya dipromosikan sebagai etalase pariwisata, sementara kebutuhan dasar warganya tertinggal.
Editor : Tim Redaksi












