lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Kebutuhan uang tunai di Kalimantan Selatan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah diproyeksikan melonjak tajam. Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Selatan resmi memulai program Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026, Jumat (13/2/2026), dengan menyiapkan uang layak edar sebesar Rp3,06 triliun.
Angka tersebut naik 36,1 persen dibandingkan tahun lalu yang tercatat Rp2,24 triliun. Lonjakan ini tidak hanya mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi, tetapi juga menunjukkan kuatnya ketergantungan masyarakat terhadap transaksi tunai pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Deputi Kepala Perwakilan BI Kalsel, A. Donanto H.W., menyebut SERAMBI sebagai langkah strategis untuk memastikan ketersediaan uang dalam jumlah cukup dan pecahan sesuai kebutuhan masyarakat.
“SERAMBI merupakan langkah strategis Bank Indonesia memastikan ketersediaan uang dalam jumlah cukup dan pecahan sesuai keinginan warga,” ujarnya.
Secara nasional, BI menyiapkan Rp185,6 triliun uang kartal. Di Kalsel, distribusi dilakukan melalui 21 perbankan dengan 120 titik layanan di 13 kabupaten/kota, meningkat sekitar 20 persen dari tahun sebelumnya. Tambahan 25 titik dari lima mitra layanan disiapkan untuk menjangkau wilayah yang lebih luas, termasuk melalui Kas Keliling BAIMAN dan LAKASI (layanan kas susur sungai).
Namun, peningkatan angka kebutuhan uang tunai ini memunculkan pertanyaan mendasar: sejauh mana dorongan digitalisasi yang selama ini digencarkan benar-benar mengubah perilaku transaksi masyarakat?
Di satu sisi, BI aktif mengampanyekan penggunaan QRIS untuk pembayaran zakat, infak, sedekah hingga Tunjangan Hari Raya. Di sisi lain, tradisi berbagi uang baru saat Lebaran tetap mendominasi. Realitas ini menunjukkan bahwa transformasi digital belum sepenuhnya menggantikan budaya transaksi tunai, terutama di momen-momen emosional dan kultural seperti Idul Fitri.
Untuk mencegah penumpukan antrean dan potensi kerumunan, BI menerapkan pembatasan penukaran maksimal Rp5.300.000 per paket serta mewajibkan pendaftaran melalui aplikasi PINTAR. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah pemerataan, namun efektivitasnya sangat bergantung pada literasi digital dan akses masyarakat, khususnya di daerah yang konektivitas internetnya belum merata.
Selain memastikan ketersediaan uang layak edar, BI juga mengingatkan masyarakat mewaspadai peredaran uang palsu dengan metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang). Edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah terus digencarkan sebagai upaya memperkuat kepercayaan terhadap mata uang nasional.
Tema “Rupiah Memberi Makna di Bulan Penuh Berkah” dengan tagline daerah “Rupiah Bamakna, Banua Bamartabat di Bulan Babarkat” menjadi pesan simbolik bahwa peredaran uang tidak hanya soal transaksi, tetapi juga soal stabilitas dan martabat ekonomi daerah.
Meski demikian, lonjakan kebutuhan hingga Rp3,06 triliun menjadi indikator bahwa perputaran uang tunai di Kalsel masih sangat besar. Tantangan ke depan bukan hanya memastikan uang tersedia, tetapi juga menyeimbangkan antara tradisi tunai dan percepatan sistem pembayaran digital agar inklusi keuangan benar-benar tercapai, bukan sekadar slogan musiman Ramadhan.
Editor: Muhammad Tamyiz


