lenterakalimantan.com, JAKARTA – Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa dan Senat Mahasiswa (FABEM-SM) bersama Masyarakat Sipil Kritis Pengawal Prabowo-Gibran (Masker Pragi) mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan optimisme di tengah dinamika ekonomi dan politik nasional.
Koordinator Nasional Masker Pragi yang juga Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FABEM-SM, Tody Ardiansyah Prabu, menyampaikan bahwa kondisi ekonomi, nilai tukar rupiah, hingga aksi mahasiswa menjadi isu yang tengah ramai diperbincangkan.
Rupiah Mulai Menguat
Menurutnya, fluktuasi nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) perlu disikapi dengan bijak. Ia menegaskan pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) terus menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Indonesia saat ini bukan lagi negara yang mudah goyah oleh tekanan global. Kita memiliki fondasi ekonomi yang semakin kuat,” ujarnya, Senin (15/6/2026).
Ia juga mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah mulai menunjukkan penguatan, tercatat berada di level Rp17.860 per dolar AS pada penutupan perdagangan 12 Juni 2026. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga berada di posisi Rp17.921 per dolar AS.
Penguatan ini didorong oleh sejumlah faktor, antara lain kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) menjadi 5,50 persen, masuknya aliran modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), serta sentimen positif pasar terhadap instrumen investasi nasional.
Aksi Mahasiswa Diminta Tetap Kondusif
Terkait aksi unjuk rasa mahasiswa, Tody menegaskan bahwa penyampaian aspirasi merupakan bagian dari demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar aksi dilakukan secara tertib dan tidak mudah terprovokasi.
“Mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Sampaikan aspirasi dengan nalar kritis dan solusi, bukan dengan provokasi,” tegasnya.
FABEM dan Masker Pragi juga menilai narasi negatif seperti “Indonesia bangkrut” tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.
Jaga Persatuan di Tengah Tekanan Global
Di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu, pihaknya mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terpengaruh isu yang dapat memecah belah bangsa.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) FABEM Sumatera Utara, Rinno Hadinata, menilai kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia sudah berada di jalur yang tepat dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Ia menyebut penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi memiliki sejumlah dampak positif, di antaranya efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penguatan cadangan devisa, serta peningkatan kepercayaan investor.
Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini juga dipengaruhi oleh faktor global seperti konflik geopolitik dan kenaikan harga energi dunia.
“Menuju Indonesia Emas membutuhkan proses panjang dan kerja bersama. Yang terpenting adalah menjaga persatuan dan tetap optimis,” pungkasnya.
Editor: Rizki


