lenterakalimantan.com, SAMARINDA – Ada sosok yang menarik perhatian dalam gelaran Wartawan Legend Bedapatan ke-4 Tahun 2026 di Hotel Claro Pandurata, Samarinda, Sabtu (13/6/2026). Sosok tersebut adalah Syafruddin Pernyata, seorang wartawan senior yang telah lama dikenal sebagai sastrawan, akademisi, sekaligus birokrat terkemuka di Kalimantan Timur.
Pria yang akrab disapa Espe itu lahir di Loa Tebu, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada 28 Agustus 1958. Tidak banyak yang mengetahui bahwa Syafruddin merupakan keturunan dari dua suku besar di Nusantara. Ayahnya berasal dari suku Mandar, Sulawesi Barat, sedangkan ibunya merupakan perempuan asli Kutai.
Perpaduan dua budaya tersebut turut membentuk karakter dan pemikiran Syafruddin dalam perjalanan hidupnya. Kedekatannya dengan budaya Mandar bahkan tercermin dalam berbagai kajian dan pemikirannya mengenai sistem kekerabatan serta perkembangan bahasa dan gelar kehormatan masyarakat Mandar.
Meski memiliki darah Mandar yang kuat, Syafruddin tumbuh dan berkarya di Kalimantan Timur. Dari tanah Benua Etam inilah namanya dikenal luas sebagai penulis produktif yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Nusantara melalui berbagai karya sastra.
Sepanjang perjalanan kariernya, Syafruddin pernah menjalani berbagai profesi. Ia pernah menjadi guru, wartawan, dosen hingga menduduki jabatan eselon II di sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Dunia tulis-menulis telah menjadi bagian dari hidupnya sejak muda. Kegemarannya menulis cerita pendek kemudian berkembang menjadi puluhan karya buku yang sebagian besar mendapat apresiasi luas dari kalangan pembaca dan pegiat literasi.
Beberapa karya yang telah diterbitkannya antara lain Harga Diri (2005), Aku Mencintaimu Shanyuan (2012), Belajar Dari Universitas Kehidupan (2012), Gores Gurau (2014), Ujar Mentor jilid 1 dan 2 (2016), Nanang Tangguh Galuh Intan (2016), Zulaiha (2016), Aku Bulan Kamu Senja (2018), Awan (2018), Ratih Tanpa Smartphone (2019), Digdaya (2019), Lelaki dari Kampong Air (2020), hingga Summa Cum Laude (2020).
Selain aktif di dunia sastra dan gerakan literasi, Syafruddin juga tercatat sebagai anggota Mufakat Budayawan Indonesia yang dipimpin budayawan nasional Rhadar Panca Dahana bersama ratusan budayawan lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran Syafruddin Pernyata dalam forum Wartawan Legend Bedapatan menjadi pengingat bahwa profesi wartawan tidak hanya melahirkan insan pers yang kritis, tetapi juga tokoh-tokoh yang mampu memberikan kontribusi besar dalam bidang sastra, pendidikan, kebudayaan, hingga pemerintahan.
Sementara itu, Wartawan Legend Bedapatan ke-4 Tahun 2026 kembali menjadi ajang silaturahmi lintas generasi insan pers Kalimantan Timur. Kegiatan yang dirangkai dengan Malam Apresiasi Wartawan Legend dan haul wartawan tersebut menjadi momentum mengenang jasa para pejuang informasi sekaligus memperkuat peran pers di era digital.
Ketua Panitia Charles Siahaan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, termasuk organisasi dan asosiasi pers di Kalimantan Timur.
Tercatat sebanyak 127 wartawan yang pernah berkiprah di Kalimantan Timur turut dikenang dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi mereka terhadap dunia jurnalistik.
Mewakili Gubernur Kalimantan Timur, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Timur Muhammad Faisal menegaskan bahwa pers memiliki peran strategis sebagai penjaga akal sehat publik, penguat demokrasi, serta perekat persatuan dan harmoni sosial.
Melalui forum Bedapatan, para wartawan lintas generasi diajak berbagi pengalaman, menjaga nilai-nilai profesionalisme, serta meneruskan semangat jurnalisme yang bertanggung jawab bagi masa depan pers di Benua Etam.


