lenterakalimantan.com, BANJARBARU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) membuka empat pelatihan kesehatan secara serentak di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Kalsel, Senin (8/6/2026), di Banjarbaru.
Kegiatan ini merupakan upaya meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam mendukung transformasi sistem kesehatan nasional serta penguatan pelayanan kesehatan primer.
Empat pelatihan yang digelar meliputi Pelatihan Teknis Penanggulangan Stroke bagi Dokter dan Perawat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Dinkes Kabupaten Hulu Sungsi Selatan, Pelatihan Surveilans dan Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit bagi Tenaga Entomolog Kesehatan Puskesmas di Dinkes Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kusta dan Frambusia Dinkes Kabupaten Hulu Sungai Utara, serta Pelatihan Konseling Menyusui Dinkes Kabupaten Kotabaru.
Kepala Bapelkes Kalsel, Abdul Basit, dalam laporannya menyampaikan bahwa salah satu pelatihan, yakni pencegahan dan pengendalian kusta dan frambusia, diikuti 26 peserta dari puskesmas di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan berlangsung pada 8 hingga 12 Juni 2026.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam mengelola program pencegahan dan pengendalian penyakit di wilayah kerja masing-masing.
Komitmen Pemprov Kalsel Tingkatkan Kualitas SDM Kesehatan
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, dr. H. Diauddin, M.Kes, menegaskan bahwa penyelenggaraan pelatihan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia kesehatan.
“Penguatan kapasitas tenaga kesehatan merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan kesehatan. Tenaga kesehatan harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta mampu menjawab tantangan penyakit menular maupun tidak menular,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelatihan penanggulangan stroke menjadi penting karena penyakit tersebut masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi stroke nasional mencapai sekitar 8,3 per 1.000 penduduk, sementara Kalimantan Selatan termasuk daerah dengan angka yang lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Karena itu, tenaga kesehatan di FKTP diharapkan mampu melakukan deteksi dini, penanganan awal, serta rujukan yang cepat dan tepat untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Selain itu, pelatihan surveilans dan pengendalian vektor dinilai strategis dalam menghadapi penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah dengue dan zoonosis lainnya.
“Tenaga entomolog kesehatan memiliki peran penting dalam melakukan surveilans, identifikasi risiko, serta pengendalian faktor lingkungan yang berpotensi menimbulkan penyakit,” jelasnya.
Pelatihan pencegahan dan pengendalian kusta serta frambusia juga dinilai penting dalam mendukung target eliminasi penyakit tropis terabaikan, meskipun angka kasus terus menurun.
Sementara itu, pelatihan konseling menyusui diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, khususnya dalam mendukung pemberian ASI eksklusif, pencegahan stunting, serta tumbuh kembang anak yang optimal.
Diauddin menilai keempat pelatihan tersebut mencerminkan pendekatan kesehatan yang komprehensif, mulai dari penyakit tidak menular, penyakit menular berbasis lingkungan, penyakit tropis terabaikan, hingga kesehatan ibu dan anak.
Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan dengan serius, aktif berdiskusi, serta memanfaatkan kesempatan untuk bertukar pengalaman dan praktik terbaik dalam pelayanan kesehatan.
Dalam kesempatan itu, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, dan Kotabaru yang telah mendukung peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.
Kegiatan kemudian secara resmi dibuka sebagai bagian dari upaya bersama dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat di Kalimantan Selatan.
Editor: Rizki


