lenterakalimantan.com, TAMIANG LAYANG – Sejumlah musisi di Kabupaten Barito Timur (Bartim) menyampaikan apresiasi terhadap dedikasi para pengrajin alat musik tradisional Kalimantan Tengah yang dinilai konsisten menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman.
Salah satu musisi Bartim, Ari Buntoro, menegaskan bahwa pelaku musik modern tetap memiliki tanggung jawab untuk menghargai dan melestarikan musik tradisional sebagai bagian dari identitas daerah.
Ia mencontohkan sosok Udin (Oedhin) Chirax, musisi asal Kabupaten Kapuas, yang tetap konsisten memproduksi alat musik tradisional seperti kecapi/sape khas Kalimantan, panting, hingga siter dari berbagai daerah.
“Ini bukti bahwa modernitas dan tradisi bisa berjalan beriringan. Dedikasi seperti ini harus dihargai,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Menurut Ari, di Bartim sendiri masih terdapat pengrajin alat musik tradisional, meski produksinya tidak dilakukan secara rutin dan lebih bergantung pada permintaan.
Hal senada juga disampaikan seniman Ariantho S. Muler yang menyebut para pengrajin lokal tetap eksis meski menghadapi berbagai keterbatasan.
“Mereka masih ada, hanya saja produksinya tidak massal. Biasanya dibuat ketika ada pesanan, seperti halnya pengrajin mandau atau kerajinan lainnya,” jelasnya.
Udin Chirax dan Alat Musik Tradisional dari Berbagai Daerah
Menariknya, Udin Chirax tidak hanya memproduksi alat musik khas Kalimantan Tengah, tetapi juga mampu membuat alat musik tradisional dari daerah lain seperti kecapi Sunda dan panting Banjar.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa aktivitasnya bukan semata untuk bisnis, melainkan bentuk pengabdian terhadap seni dan budaya.
“Motivasi utama saya adalah mendarmabaktikan diri pada dunia seni budaya Kalteng,” ungkap Udin.
Para musisi Bartim berharap keberadaan pengrajin alat musik tradisional terus mendapat perhatian dan dukungan, sehingga warisan budaya tetap terjaga dan mampu dikenal oleh generasi mendatang.
Editor: Rizki


