lenterakalimantan.com, BARITO KUALA – Laporan masyarakat mengenai dugaan sekitar 40 persen tanaman padi terdampak penyakit tungro di Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, mendapat perhatian. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Wanaraya, Titin Dwiyani, membenarkan adanya serangan penyakit tungro di sejumlah areal persawahan, namun menegaskan kondisinya belum menyebabkan gagal panen (puso).
Menurut Titin, tingkat serangan tungro di lapangan bervariasi, mulai dari kategori sedang hingga berat. Karena itu, petani diminta segera melakukan langkah pengendalian agar penyebaran penyakit tidak semakin meluas.
“Tanamannya memang ada yang terdampak, tetapi belum sampai puso. Tingkat serangannya masih berkisar sedang hingga berat,” ujar Titin saat diwawancarai lenterakalimantan.com di Kecamatan Wanaraya, Rabu (16/7/2026).
Sebagai upaya pengendalian, Dinas Pertanian telah menyalurkan bantuan berupa insektisida, herbisida, dan pestisida kepada para petani.
Titin menjelaskan, penyakit tungro ditularkan oleh hama wereng sehingga pengendalian tidak cukup hanya dengan penyemprotan pestisida. Menurutnya, langkah yang lebih penting adalah memutus siklus hidup hama melalui pengelolaan lahan dan sanitasi yang baik.
Ia mengatakan, sebelum adanya larangan pembakaran lahan, petani biasa memanfaatkan pembakaran sisa tanaman untuk membantu menekan populasi wereng. Kini, metode tersebut sudah tidak lagi diperbolehkan sehingga petani beralih menggunakan cara yang lebih ramah lingkungan.
“Petani sekarang sudah memahami larangan membakar lahan. Pengolahan lahan dilakukan menggunakan traktor roda dua atau alat rotari, meski sebagian kecil masih menggunakan tajak,” katanya.
Selain ancaman tungro, petani di Wanaraya juga menghadapi tantangan lahan sulfat masam. Pengolahan tanah yang terlalu dalam dapat meningkatkan tingkat keasaman tanah sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman.
Di sisi lain, luas tanam padi di Kecamatan Wanaraya diperkirakan mencapai sekitar 1.400 hektare. Luasan tersebut terus mengalami penurunan karena sebagian lahan beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit yang dinilai lebih menguntungkan.
Meski demikian, kondisi pertanaman padi secara umum masih cukup baik. Sebagian petani mulai memasuki masa panen dengan harga gabah yang membaik, meski biaya produksi seperti upah tanam dan panen juga mengalami kenaikan.
Titin berharap petani tetap mempertahankan budidaya padi sebagai komoditas pangan utama untuk mendukung ketahanan pangan daerah.
“Kami berharap petani tetap semangat menanam padi. Jangan sampai semuanya beralih ke komoditas lain, karena padi tetap memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan,” pungkasnya.
Editor: Muhammad Tamyiz


