lenterakalimantan.com, PELAIHARI – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Tanah Laut mulai memicu krisis air bersih di Desa Damit Hulu, Kecamatan Batu Ampar. Selama lebih dari satu bulan terakhir, warga di RT 8 dan RT 9 kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumur-sumur mengering.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi dan mencuci, warga terpaksa memanfaatkan air sungai. Sementara untuk kebutuhan minum dan memasak, sebagian warga harus membeli air bersih yang diantar menggunakan mobil tangki.
Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Dalam sebulan, satu keluarga dapat menghabiskan hingga Rp400 ribu hanya untuk membeli air bersih.
Kondisi tersebut menjadi beban tambahan bagi warga di tengah musim kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Ketua RT 8 Desa Damit Hulu, Andik, mengatakan di wilayahnya terdapat sekitar 60 kepala keluarga atau sekitar 150 jiwa yang terdampak krisis air bersih.
“Untuk di RT 8 ada 60 kepala keluarga dengan total sekitar 150 warga,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Andik, seluruh warga kini mengandalkan air dari sungai untuk mandi dan mencuci. Namun, kondisi air sungai mulai keruh dan debitnya terus menurun.
“Semua warga di sini mandi di sungai besar. Airnya juga tidak bersih dan sekarang pasokannya terus berkurang,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Tanah Laut segera menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak.
Selain itu, pemerintah juga diminta menyiapkan solusi jangka panjang agar persoalan kekeringan tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Sementara itu, Kepala Desa Damit Hulu, Edy Suhendra, membenarkan bahwa kekeringan melanda dua wilayah, yakni RT 8 dan RT 9.
“Warga yang terdampak kekeringan ada di RT 8 dan RT 9,” ujarnya.
Editor: Rizki


