lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Penurunan penjualan mulai dirasakan sejumlah pedagang di Kalimantan Selatan (Kalsel). Di tengah perubahan pola belanja masyarakat, pedagang pakaian dan penjual makanan mengaku pendapatan mereka merosot, seiring dugaan konsumen semakin selektif dalam membelanjakan uang.
Kondisi tersebut terungkap dari wawancara lenterakalimantan.com dengan sejumlah pedagang pada Selasa (20/10/2026). Nuraida, seorang pedagang pakaian di Banjarmasin, mengatakan minat masyarakat untuk membeli dagangannya menurun dalam beberapa bulan terakhir.
Ia menduga masyarakat kini lebih memprioritaskan kebutuhan sehari-hari dibandingkan membeli pakaian. Namun, ia mengaku belum mengetahui secara pasti faktor yang menyebabkan penurunan penjualan tersebut.
“Kurang paham, Mas, apa penyebabnya. Ya mungkin lebih mementingkan kebutuhan,” ujar Nuraida.
Penurunan pendapatan juga dirasakan Ono, pedagang pentol di kawasan Sungai Lumbah, Kabupaten Barito Kuala. Ia mengatakan omzet yang biasanya mencapai Rp1,5 juta per hari kini hanya berkisar Rp700 ribu.
Artinya, pendapatan kotor dari penjualan pentol tersebut berkurang sekitar Rp800 ribu per hari atau lebih dari separuh dibandingkan biasanya.
“Biasanya Rp1,5 juta, Mas, sekarang separuh aja lagi,” kata Ono.
Pengalaman kedua pedagang itu memperlihatkan bagaimana perubahan belanja konsumen dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil. Ketika pembelian berkurang atau konsumen lebih berhati-hati mengeluarkan uang, pedagang berpotensi menghadapi penurunan omzet.
Meski demikian, pengalaman tersebut merupakan gambaran pada tingkat usaha individual dan belum mewakili keseluruhan kondisi perdagangan di Kalsel.
Perlambatan belanja terlihat dalam data BCA
Keluhan pedagang di daerah tersebut muncul di tengah indikator nasional yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan belanja masyarakat.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David E. Sumual, mengungkapkan bahwa berdasarkan data sekitar 34 juta nasabah BCA, pertumbuhan belanja masyarakat pada September 2026 mencapai 1,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 1,8 persen pada Agustus 2026.
“Memasuki kuartal 3 ini kecenderungannya melambat. Jadi trennya di September ini tumbuhnya hanya 1,4%,” ujar David dalam acara Business Outlook 2027 yang disiarkan secara virtual, Selasa (20/10/2026).
Selain belanja, tren pendapatan masyarakat yang tercermin dalam BCA Income Index juga menunjukkan kecenderungan menurun.
“Memang trennya kecenderungannya menurun,” katanya.
Data tersebut memberikan konteks ekonomi yang relevan untuk memahami keluhan para pedagang. Namun, perlambatan pertumbuhan belanja secara nasional tidak serta-merta membuktikan bahwa penurunan omzet Nuraida dan Ono disebabkan oleh faktor yang sama.
Perbedaan jenis dagangan, lokasi usaha, harga barang, persaingan, dan karakteristik konsumen juga dapat memengaruhi kinerja penjualan masing-masing pedagang.
Di tengah kondisi tersebut, David menjelaskan fenomena lipstick effect, yaitu kecenderungan konsumen tetap membeli produk yang memberikan kepuasan pribadi atau kesan mewah, tetapi memilih barang dengan harga lebih terjangkau ketika kondisi ekonomi sedang tertekan.
“Jadi justru dalam ekonomi yang menurun itu, lipstick effect terjadi,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak selalu membuat masyarakat menghentikan seluruh pengeluaran nonpokok. Sebagian konsumen masih membeli barang untuk memenuhi keinginan pribadi, tetapi dapat mengubah pilihan produk, merek, ukuran, maupun anggaran belanja.
Menurut David, industri kecantikan dan perawatan diri masih tergolong prospektif dalam situasi tersebut. Sejumlah sektor lain, seperti teknologi, industri kreatif, media digital, mebel, dan dekorasi rumah, juga dinilai memiliki peluang.
Peluang serupa terdapat pada bidang pendidikan dan keterampilan nonformal, layanan kebugaran, kesehatan mental, kesejahteraan, industri hewan peliharaan, arsitektur, desain interior, renovasi rumah, pariwisata, rekreasi swasta, serta logistik khusus dan pengiriman nonpangan.
“Jadi ini sektor-sektor yang di luar sektor-sektor besar yang kita lihat secara big data performanya cukup bagus,” kata David.
Meski demikian, peluang pada sektor-sektor tersebut tidak berarti seluruh jenis usaha akan mengalami pertumbuhan yang sama. Kemampuan konsumen membayar, karakteristik produk, dan kebutuhan pasar tetap menjadi faktor penting.
Bagi pedagang pakaian seperti Nuraida, dugaan bahwa konsumen lebih mengutamakan kebutuhan pokok dapat menjadi tantangan dalam mempertahankan penjualan. Sementara bagi Ono, penurunan omzet pentol menunjukkan bahwa perubahan permintaan, jika berlangsung terus-menerus, dapat memengaruhi pendapatan usaha sehari-hari.
Dua pengalaman tersebut, jika ditempatkan bersama data perlambatan belanja BCA, memperlihatkan pentingnya mencermati perubahan pola konsumsi dari dua sisi: indikator ekonomi agregat dan kondisi nyata yang dialami pelaku usaha.
Namun, untuk memastikan apakah penurunan penjualan pedagang di Kalsel berkaitan dengan pelemahan daya beli secara luas, diperlukan data tambahan mengenai konsumsi rumah tangga, perkembangan perdagangan daerah, serta kondisi usaha pada sektor yang lebih beragam.


