lenterakalimanran.com, PARINGIN – Bersiap menghadapi musim kemarau yang dipredeksi tiba pada pertengahan Juni 2024 oleh BMKG Kalsel baru-baru ini, untuk itu BPBD Balangan mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Balangan, Rahmi, menyampaikan jika pihaknya mengimbau warga setempat untuk siaga dan waspada terhadap potensi bencana di musim kemarau.
Hal yang lebih penting menurutnya, yakni mengantisipasi bahaya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di musim kemarau.
“Bagi warga yang membuka lahan, tetap memperhatikan segala sesuatunya, untuk lahan pasca-tanam hendaknya tidak menggunakan cara dibakar, karena hal ini memicu terjadinya potensi yang mengakibatkan kebakaran lahan maupun hutan,” jelasnya kepada lenterakalimantan.com melalui pesan WhatsApp, Kamis (9/5/2024).
Kalak BPBD Balangan menambahkan, pihaknya akan terus berupaya mempersiapkan segala sesuatu jelang musim kemarau, mulai dari persiapan peralatan, sarana dan prasarana, serta bahan logistik sambil memantau perkembangan cuaca.
“Status siaga darurat karhutla akan ditetapkan pada saatnya nanti, hal ini juga mengacu pada petunjuk BNPB maupun BPBD Provinsi Kalsel, tergantung situasi dan kondisinya nanti,” pungkas Kalak BPBD Rahmi.
Mengutip pembicaraan Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Kalsel, Goeroeg Tjipttanto bersama Kalak BPBD Balangan dalam hal ini ia menyebutkan, tiap kabupaten/kota di wilayah Kalsel masuknya musim kemarau terjadi tidak bersamaan dengan masa rentan sekitar Juni hingga Agustus 2024.
Dalam perbandingan predeksi dari tahun sebelumnya, di tahun ini musim kemarau yang terjadi di wilayah Kalsel secara umun akan lebih pendek.
“Musim kemarau tahun ini, dipredeksi mundur atau lebih lambat dari kondisi normal seperti pada tahun sebelumnya, untuk Kabupaten Balangan sendiri dipredeksi memasuki awal musim kemarau di minggu kedua bulan Juni 2024 (Dasarian Ii Juni),” kutip Kalak BPBD Balangan Rahmi.
Oleh karena itu, BMKG memberikan saran dan masukan untuk pemerintah daerah menyiapkan lokasi penampungan air (danau, waduk dan sumur bor) dalam menghadapi musim kemarau sebagai langkah antisipatif terjadinya karhutla.


