lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Kalimantan Selatan kini dihadapkan dengan maraknya keberadaan warung jablay, terutama di sepanjang jalan dan di beberapa kabupaten lainnya. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat, khususnya terkait dampaknya terhadap citra daerah yang dikenal religius.
“Kami tidak ingin keberadaan warung-warung tersebut mencoreng nama baik para ulama di Kalimantan Selatan,” ujar Abah Guru Haji Sugian Noor, seorang tokoh masyarakat, pada Selasa, 9 Juli 2024.
Dalam upaya menangani permasalahan ini, Abah Guru Haji Sugian Noor telah melakukan komunikasi dengan pejabat daerah untuk berdialog dan mencari solusi yang konstruktif. “Prinsip kami adalah ingin membenahi, bukan membinasakan. Kami ingin membina mereka, bukan menghancurkan,” katanya.
Salah satu masalah yang diidentifikasi adalah tidak adanya aturan operasional yang jelas untuk warung-warung tersebut. “Tidak ada jam tutup yang ditetapkan, bahkan pada malam tertentu yang seharusnya lebih dihormati, seperti malam Jumat,” tambahnya.
Masyarakat berharap pemerintah, bersama TNI, Polri, dan Satpol PP, dapat mengambil langkah-langkah konkret untuk membina para pemilik dan pengunjung warung tersebut. “Kami berharap mereka bisa sadar dan kembali ke jalan yang lebih baik,” ujar Sugian Noor.
Ia juga menekankan pentingnya peran serta pemerintah dalam menangani masalah ini untuk menjaga marwah Kalimantan Selatan sebagai wilayah yang dikenal religius.
“Jika ini diabaikan, dampaknya akan merusak citra Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai Serambi Mekah, dengan banyak santri di Martapura dan makam ulama para wali,” lanjutnya.
Sugian Noor mengimbau agar pendekatan yang dilakukan bersifat pembinaan dan penuh rasa empati. “Jika penegakan hukum tidak memadai, mari kita bina mereka dengan hati nurani,” pungkasnya.


