lenterakalimantan.com, RANTAU – Sekretaris Daerah Kabupaten Tapin, Dr. H. Sufiansyah, MAP, secara resmi membuka rapat koordinasi terkait intervensi spesifik dan sensitif dalam pengukuran serta publikasi data stunting. Acara ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapin, dan dilaksanakan di Hotel Tapin, pada Senin (11/11/2024).
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Tapin, Dr. H. Alfian Yusuf, SKM, menyampaikan bahwa percepatan penurunan stunting di Kabupaten Tapin menjadi fokus utama. Ia menekankan pentingnya pengukuran, pertumbuhan, dan publikasi data stunting sesuai dengan delapan langkah percepatan stunting yang telah diarahkan oleh pemerintah pusat.
“Hari ini kegiatan rembuk stunting juga sedang berlangsung di kecamatan-kecamatan. Walaupun waktu sangat terbatas, kegiatan tetap harus terlaksana dengan baik,” ujar Dr. Alfian.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa program rembuk stunting adalah inisiatif nasional yang harus dilaksanakan oleh semua Kabupaten/Kota hingga tingkat kecamatan dan desa. Berdasarkan survei terakhir tahun 2023, angka stunting di Kabupaten Tapin tercatat sebesar 14,4 persen, yang berarti sekitar 14 hingga 15 dari setiap 100 balita mengalami stunting. Angka ini mendekati target Presiden Jokowi untuk tahun 2024.
Dr. Alfian juga menyebutkan, bahwa pada Oktober 2024, data stunting di Kabupaten Tapin menunjukkan penurunan menjadi 12,34 persen.
“Meskipun sudah mendekati target nasional, kita tetap perlu melakukan upaya-upaya strategis. Berkat dukungan Bupati dan Sekda, tahun ini Kabupaten Tapin menerima anggaran sebesar Rp 5,6 miliar untuk Program Makanan Pendamping (PMP) bagi balita stunting,” lanjutnya.
Ia berharap, seluruh pemangku kepentingan, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa, berkomitmen penuh dalam pengelolaan percepatan penurunan stunting. “Terima kasih atas kerja sama, sinergi, dan kolaborasi berbagai pihak dalam menjalankan program stunting di Kabupaten Tapin,” tutup Dr. Alfian.
Sekretaris Daerah Tapin, Dr. H. Sufiansyah, dalam sambutannya menekankan bahwa stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan bangsa dan kedaulatan negara.
“Stunting mempengaruhi kualitas SDM kita. Jika SDM kita rendah, negara ini akan rentan terhadap intervensi dari pihak luar di masa depan,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa saat ini angka stunting di Tapin masih berada pada 14,4 persen, sedikit turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 14,5 persen. Namun, angka ini masih cukup besar, mengingat anak-anak tersebut akan menjadi generasi penerus yang memegang peran penting dalam pembangunan bangsa.
Dr. Sufiansyah juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama menurunkan angka stunting hingga di bawah standar nasional, agar Indonesia memiliki generasi yang sehat dan tangguh.
“Mengurangi, bahkan menghilangkan stunting, adalah investasi kita untuk masa depan bangsa ini. Maka dari itu, rapat koordinasi ini adalah bagian dari upaya kita dalam penurunan dan pencegahan stunting,” tegasnya.
Ia menambahkan, bahwa data terbaru menunjukkan adanya penurunan stunting di Tapin hingga mencapai 12,34 persen berdasarkan audit terbaru. “Ini adalah hasil kerja keras kita bersama. Semoga ke depan, dengan komitmen dan sinergi yang kuat, angka stunting di Kabupaten Tapin terus menurun hingga berada di bawah standar nasional,” tutup Dr. Sufiansyah.


