Menjadi perempuan aktif di Banjarmasin bukanlah perkara sederhana. Di tengah kuatnya nilai budaya, agama, dan norma sosial yang dijunjung tinggi, perempuan sering kali dihadapkan pada ekspektasi tertentu tentang bagaimana seharusnya mereka bersikap, berperan, dan menentukan pilihan hidup. Namun, perempuan aktif baik di ruang publik, pendidikan, organisasi, maupun dunia kerja bukanlah ancaman bagi nilai-nilai tersebut, melainkan bagian dari perkembangan masyarakat itu sendiri.
Banjarmasin dikenal sebagai kota yang religius dan berbudaya. Nilai kesopanan, kebersamaan, dan keharmonisan sangat dijaga. Sayangnya, nilai-nilai ini terkadang disalahartikan menjadi batasan yang membungkam ruang gerak perempuan. Perempuan yang aktif berorganisasi, bersuara kritis, atau berkarier di luar peran domestik kerap dicibir dengan label “terlalu ambisius”, “kurang pantas”, atau “melupakan kodrat”. Padahal, menjadi aktif bukan berarti meninggalkan identitas sebagai perempuan atau menafikan nilai budaya dan agama.
Perempuan aktif adalah perempuan yang sadar akan potensi dirinya dan berani mengembangkannya. Di Banjarmasin, semakin banyak perempuan yang terlibat dalam kegiatan sosial, pendidikan, wirausaha, hingga politik lokal. Mereka hadir sebagai guru, relawan, pengusaha UMKM, aktivis lingkungan, dan pemimpin komunitas. Kehadiran mereka membuktikan bahwa perempuan mampu berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah tanpa harus kehilangan jati diri sebagai urang Banjar.
Cibiran sering muncul karena perubahan kerap dianggap sebagai ancaman. Ketika perempuan memilih untuk aktif, mandiri, dan berpendapat, sebagian masyarakat merasa terusik oleh pola lama yang sudah nyaman. Namun, perempuan tidak seharusnya hidup dalam ketakutan akan penilaian orang lain. Kemajuan sebuah daerah justru lahir dari keberanian warganya termasuk perempuan untuk mengambil peran dan bertanggung jawab atas masa depan bersama.
Menjadi perempuan aktif di Banjarmasin juga berarti cerdas dalam bersikap. Aktif bukan berarti melawan norma, tetapi menegosiasikan peran dengan bijak. Perempuan dapat tetap menjunjung nilai agama, adat, dan kesopanan sambil tetap produktif dan berdaya. Keseimbangan inilah yang perlu dipahami oleh masyarakat: bahwa perempuan bisa aktif tanpa harus dianggap melanggar batas.
Yang paling penting, perempuan perlu saling menguatkan. Dukungan dari sesama perempuan, keluarga, dan lingkungan sekitar sangat berperan dalam membangun rasa percaya diri. Ketika satu perempuan berani melangkah, ia membuka jalan bagi perempuan lain untuk melakukan hal yang sama. Perlahan, cibiran akan tergantikan oleh penghargaan, dan stereotip akan runtuh oleh prestasi nyata.
Pada akhirnya, menjadi perempuan aktif tanpa takut dicibir di Banjarmasin adalah bentuk keberanian dan cinta terhadap diri sendiri serta daerah. Perempuan tidak meminta keistimewaan, hanya ruang yang setara untuk tumbuh dan berkontribusi. Jika Banjarmasin ingin terus maju, maka perempuan yang aktif, berdaya, dan berani harus dipandang bukan sebagai masalah, melainkan sebagai kekuatan.
Pendidikan memegang peran penting dalam membangun generasi perempuan yang tidak takut dicibir. Ketika perempuan dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman kritis, mereka akan lebih mampu membedakan kritik yang membangun dan cibiran yang tidak berdasar. Pendidikan juga membantu perempuan memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai individu dan sebagai bagian dari masyarakat. Dengan demikian, perempuan tidak mudah terintimidasi oleh tekanan sosial.
Dukungan keluarga menjadi faktor kunci dalam membentuk keberanian perempuan. Perempuan yang didukung oleh orang tua, pasangan, dan keluarga besar cenderung lebih percaya diri dalam beraktivitas di ruang publik. Di Banjarmasin, peran keluarga sangat kuat, sehingga restu dan dukungan keluarga dapat menjadi benteng utama dari cibiran lingkungan. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk menyadari bahwa keberhasilan perempuan adalah kebanggaan bersama, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Pada akhirnya, perubahan sosial tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan waktu dan konsistensi untuk membangun penerimaan terhadap perempuan aktif di Banjarmasin. Setiap perempuan yang berani melangkah, tetap teguh pada prinsipnya, dan menunjukkan kontribusi nyata akan menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya. Cibiran mungkin tidak akan langsung hilang, tetapi lambat laun akan melemah ketika masyarakat melihat hasil nyata dari keaktifan perempuan.
Menjadi perempuan aktif tanpa dicibir bukan berarti menunggu masyarakat berubah sepenuhnya, melainkan berani menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Dengan tetap menjunjung nilai budaya dan agama, perempuan Banjarmasin dapat menunjukkan bahwa keaktifan, keberdayaan, dan martabat dapat berjalan beriringan. Perempuan tidak perlu memilih antara menjadi diri sendiri atau diterima masyarakat keduanya bisa diwujudkan melalui keberanian, ketulusan, dan kontribusi yang nyata.
Secara keseluruhan, pandangan terhadap opini ini cenderung positif dan konstruktif. Opini tersebut tidak provokatif, melainkan persuasif dan edukatif. Ia mengajak perubahan secara bertahap, bukan dengan penolakan terhadap nilai lokal, tetapi melalui penyesuaian dan pemahaman yang lebih inklusif. Dengan demikian, opini tentang menjadi perempuan kuat tanpa takut dicibir di Banjarmasin layak diapresiasi sebagai upaya membangun kesadaran sosial dan mendorong terciptanya masyarakat yang lebih adil, menghargai, dan memberi ruang bagi perempuan untuk berdaya.
Menurut saya, menjadi perempuan kuat tanpa takut dicibir di Banjarmasin adalah bentuk keberanian yang patut dihargai. Dalam lingkungan yang masih sangat menjunjung norma dan kebiasaan turun temurun, perempuan sering kali dihadapkan pada batasan sosial yang tidak selalu tertulis, tetapi terasa nyata. Cibiran, pandangan sinis, atau komentar meremehkan kerap muncul ketika perempuan memilih untuk aktif, mandiri, dan berani mengambil peran di ruang publik.
Islam memandang perempuan sebagai makhluk yang mulia dan setara dalam nilai kemanusiaan. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi. Artinya, perempuan memiliki tanggung jawab sosial yang sama untuk berbuat kebaikan, menuntut ilmu, bekerja, dan berkontribusi dalam masyarakat. Di Banjarmasin, yang dikenal sebagai kota religius, semangat ini seharusnya menjadi landasan dalam memandang perempuan yang aktif dan kuat.
Perempuan kuat adalah perempuan yang memiliki landasan spiritual yang kokoh. Ia mampu bersikap tenang dan tidak mudah goyah oleh cibiran karena menyadari bahwa penilaian utama datang dari Tuhan, bukan semata-mata dari manusia. Dalam masyarakat Banjarmasin yang religius, keteguhan iman membantu perempuan menjalani perannya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
Penulis : Zulfa Salsabila Muzanie
Peserta Latihan Khusus Kohati (LKK) HMI Cabang (P) Tanah Laut 2025
Cabang : Banjarmasin


