lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Selatan menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Kamis (15/1/2026). Aksi ini digelar untuk menolak wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Aksi yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari beberapa kampus, di antaranya Universitas Lambung Mangkurat (ULM), UIN Antasari Banjarmasin, dan Universitas Achmad Yani (UVAYA) Banjarmasin, mengusung tajuk “Seruan Perlawanan Penolakan Pilkada Melalui DPRD”.
Sebelum bergerak ke lokasi aksi, massa berkumpul di dua titik, yakni Gedung Serbaguna ULM Banjarmasin dan Gedung Pascasarjana ULM Banjarbaru. Selanjutnya, massa bergerak menuju Gedung DPRD Kalsel untuk menyampaikan aspirasi.
Dalam orasinya, mahasiswa menyampaikan kegelisahan terhadap arah demokrasi Indonesia yang dinilai mengalami kemunduran. Wacana penghapusan Pilkada langsung dan mengembalikannya kepada mekanisme pemilihan oleh DPRD dinilai sebagai bentuk kemunduran demokrasi.
“Wacana Pilkada melalui DPRD adalah bentuk pembajakan kedaulatan rakyat. Demokrasi tidak boleh ditarik mundur ke masa lalu,” ujar salah satu orator.
Enam Tuntutan Mahasiswa kepada Legislatif dan Pemerintah
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan enam tuntutan kepada Pemerintah dan DPR RI. Di antaranya menuntut dihentikannya wacana Pilkada melalui DPRD, penegasan komitmen negara terhadap demokrasi elektoral langsung, pembebasan tahanan politik, pelaksanaan audit lingkungan secara independen, serta penagihan janji pemerintah terkait pembatalan penetapan Taman Nasional Meratus.
Mahasiswa juga mendesak Presiden dan DPR RI untuk segera mengesahkan undang-undang yang berpihak kepada rakyat.
Aksi berlangsung dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Massa aksi mengenakan almamater dan pakaian hitam sebagai simbol perlawanan terhadap praktik kekuasaan yang dinilai menjauh dari nilai demokrasi dan keadilan sosial.
Situasi Memanas Diwarnai Aksi Saling Dorong
Sekitar sore hari, situasi sempat memanas ketika massa mendesak untuk bertemu langsung dengan anggota DPRD Kalsel. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena bertepatan dengan agenda reses anggota dewan.
Ketegangan terjadi saat massa bergerak mendekati pagar masuk Gedung DPRD Kalsel. Aparat kepolisian yang berjaga dengan perlengkapan tameng melakukan pengamanan ketat. Aksi saling dorong pun sempat terjadi selama beberapa menit dan kembali terulang hingga dua kali.
Hingga sore hari, massa aksi masih bertahan di depan Gedung DPRD Kalsel dan terus menyampaikan aspirasi melalui orasi.
Editor: Rizki


