lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Gubernur Kalimantan Selatan, H Muhidin, mendorong PT Ambang Barito Nusapersada (Ambapers) untuk mengoptimalkan seluruh potensi sumber pendapatan guna meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan daerah.
Hal itu disampaikan Muhidin saat menghadiri peringatan hari jadi ke-22 Ambapers yang dirangkaikan dengan halal bihalal dan customer gathering di Mahligai Pancasila, Banjarmasin, Kamis (23/4). Ia hadir didampingi Ketua TP PKK Kalsel, Hj Fathul Jannah Muhidin.
Menurut Muhidin, salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah pembenahan regulasi terkait skema bagi hasil dari kegiatan pengerukan alur Sungai Barito yang dikerjakan Ambapers bersama PT Pelindo III.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pengaturan kontribusi bagi angkutan kargo. Namun, ia menegaskan bahwa angkutan kebutuhan pokok sebaiknya tidak dibebani biaya.
“Untuk pendapatan, gali terus potensi yang ada sehingga dapat menambah pemasukan bagi pemerintah provinsi,” ujarnya.
Ambapers diketahui mengelola pendapatan dari retribusi jasa alur Ambang Sungai Barito (channel fee) melalui skema kerja sama bisnis (B2B) dengan BUMD dan BUMN. Perusahaan ini berkontribusi melalui dividen serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar 8 persen selama masa konsesi 20 tahun.
Direktur Utama Ambapers, Zulfadli Gazali, mengatakan pengelolaan alur Barito memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian regional. Alur tersebut kini tidak lagi bergantung pada pasang surut air sungai, sehingga memperlancar arus logistik.
“Kelancaran distribusi barang berdampak pada stabilitas biaya transportasi dan turut menjaga inflasi daerah,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan Ambapers juga berperan dalam menjaga konektivitas sektor industri, pertambangan, pertanian, hingga pelabuhan transit di kawasan Indonesia Timur.
“Tanpa alur yang aman dan stabil, rantai pasok akan terhambat. Ambapers hadir sebagai solusi,” katanya.
Ambapers merupakan perusahaan milik daerah yang memperoleh konsesi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan untuk mengelola alur Ambang Sungai Barito. Perusahaan yang berdiri pada 2004 ini menjadi pengelola alur pelayaran komersial pertama di Indonesia yang bertujuan mengatasi pendangkalan di muara Sungai Barito.
Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat daerah dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan perbankan, serta mitra kerja Ambapers.
Dalam rangkaian acara, digelar dialog bertema “Optimalisasi Kanal Barito sebagai Poros Logistik Indonesia Timur” dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari pemerintah daerah, Ambapers, dan sektor terkait.
Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng, penyerahan penghargaan kepada mitra kerja, serta pemberian bantuan sosial kepada anak-anak Panti Asuhan Rumah Harapan di Banjarmasin.
Editor: Tim Redaksi


