lenterakalimantan.com, BANJARBARU – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan pentingnya peran Kalimantan Selatan sebagai daerah penyangga ketahanan pangan nasional dan regional Kalimantan.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda) I Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan di Grand Qin Hotel Banjarbaru, Senin (15/06/2026).
Hanif mengatakan Kalimantan Selatan menjadi salah satu wilayah sasaran pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 tentang Kawasan Swasembada Pangan, Energi dan Air. Melalui kebijakan tersebut, daerah diharapkan mampu menjadi bantalan atau buffer dalam menghadapi berbagai kondisi global yang tidak menentu.
Menurutnya, ketahanan pangan harus menjadi perhatian serius karena gejolak geopolitik dunia dapat berdampak langsung pada kondisi ekonomi dan ketersediaan pangan.
“Ketika Rusia menyerang Ukraina, seluruh tatanan ekonomi berubah. Karena itu, kita harus mempersiapkan diri melalui ketahanan pangan dan tidak bergantung pada impor,” ujarnya.
Ia menjelaskan, strategi ketahanan pangan nasional dibangun melalui dua pendekatan utama, yakni intensifikasi dan ekstensifikasi. Untuk Kalimantan Selatan, pemerintah lebih memprioritaskan intensifikasi karena luas lahan sawah yang dimiliki daerah dinilai sudah cukup besar.
“Untuk Kalimantan Selatan, kita fokus pada intensifikasi. Sawah yang kita miliki sudah luas, tinggal bagaimana meningkatkan produktivitasnya,” katanya.
Jaringan Irigasi Primer dan Sekunder yang Luas di Kalsel
Hanif mengungkapkan pemerintah telah membangun jaringan irigasi primer dan sekunder yang cakupannya mencapai sekitar 500 ribu hektare. Namun, sebagian jaringan tersebut belum tersambung secara optimal ke saluran tersier sehingga manfaatnya belum maksimal bagi lahan pertanian.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong pembangunan sawah baru yang potensinya di Kalimantan Selatan diperkirakan mencapai sekitar 30 ribu hektare.
Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan dan pengelolaan bendungan, termasuk Bendungan Riam Kiwa, untuk mendukung produktivitas pertanian sekaligus mengurangi risiko banjir yang dapat mengganggu masa tanam dan panen.
Tak hanya sektor pertanian, pemerintah juga mengembangkan ketahanan pangan berbasis potensi lokal melalui integrasi perkebunan sawit dan peternakan sapi, serta penguatan komoditas perikanan seperti ikan gabus.
“Kita berharap Kalimantan Selatan mampu memanfaatkan peran strategisnya sebagai penyangga pangan di regional Kalimantan,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, Hanif juga menilai bahwa MUI memiliki peran penting dalam mendukung program ketahanan pangan. Dengan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi, MUI diharapkan dapat membantu menyampaikan berbagai program pemerintah agar lebih mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat.
Editor: Rizki


