lenterakalimantan.com, SAMARINDA — Derasnya arus informasi di media sosial membuat kemampuan membaca saja tidak lagi cukup. Masyarakat dituntut mampu memahami, menyaring, dan memastikan kebenaran informasi sebelum memberikan respons.
Hal itu disampaikan Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Dr H Rudy Mas’ud saat menghadiri kegiatan literasi di Aula Tower Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda, Minggu (30/8/2026).
Rudy menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang langsung memberikan komentar hanya berdasarkan judul atau potongan informasi tanpa membaca dan memahami keseluruhan isi.
“Apalagi di era media sosial ini, informasi begitu cepat. Baru membaca judul saja, belum membaca isi, komen langsung panjang,” ujar Rudy.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemaknaan literasi di era digital telah mengalami perubahan. Literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, menyaring informasi, hingga menggunakannya secara bijak.
“Pemahaman kita tentang literasi juga harus terus berkembang. Literasi hari ini jauh lebih luas. Masyarakat tidak cukup hanya mampu membaca, tetapi juga harus mampu memahami, menyaring, dan menggunakan informasi secara bijak,” tegasnya.
Rudy menilai generasi muda memiliki posisi penting dalam menghadapi perubahan tersebut. Mereka tidak cukup hanya menjadi pengguna berbagai platform digital dan konsumen informasi, tetapi juga perlu didorong menghasilkan informasi maupun karya yang memiliki nilai manfaat.
“Kepada anak-anak serta generasi muda Kaltim, kami titip satu pesan: jangan hanya menjadi pengguna informasi. Jadilah pencipta informasi dan pencipta karya,” pesannya.
Ia mengajak generasi muda memperkuat kebiasaan membaca, berpikir kritis, berkreasi, serta memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang produktif.
Pesan tersebut disampaikan seiring upaya Kaltim memperkuat pembangunan literasi masyarakat. Berdasarkan hasil kajian nasional 2025 yang dirilis Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kaltim mencapai 44,11 dan menempatkan Kaltim di peringkat ketujuh dari 38 provinsi di Indonesia.
Rudy menyebut capaian tersebut patut disyukuri sekaligus menjadi dorongan untuk memperkuat gerakan literasi di seluruh wilayah Kaltim.
Ia berharap gerakan literasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Budaya literasi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan dibangun bersama mulai dari keluarga, sekolah, desa dan kelurahan, komunitas, tempat kerja hingga lingkungan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kaltim Lisa Hasliana mengatakan Festival Literasi Kaltim menjadi momentum untuk menyatukan langkah berbagai pihak dalam memperkuat gerakan literasi secara berkelanjutan.
Menurutnya, gerakan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca, tetapi juga membangun kecakapan literasi masyarakat.
Penguatan ekosistem literasi dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, keluarga, satuan pendidikan, komunitas, dunia usaha dan masyarakat.
Bunda Literasi Kaltim Suraidah Harum menambahkan, pemahaman mengenai literasi harus mengikuti perkembangan zaman. Anak-anak dan generasi muda saat ini tumbuh di tengah derasnya arus informasi, perkembangan teknologi digital hingga hadirnya kecerdasan buatan.
“Anak-anak kita hidup di tengah banjir informasi. Mereka berhadapan dengan media sosial, teknologi digital, kecerdasan buatan, berbagai macam informasi, sekaligus disinformasi,” kata Suraidah.
Karena itu, kemampuan literasi perlu diperluas mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, keuangan, lingkungan, budaya dan teknologi. Kemampuan berpikir kritis juga menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
“Literasi juga berkaitan dengan pembentukan karakter seseorang, agar mampu menentukan informasi maupun tindakan yang baik bagi dirinya dan orang lain,” terangnya.
Suraidah berharap Gerakan Literasi Kaltim dapat menjadi gerakan bersama untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat.
Menurutnya, kebiasaan tersebut paling efektif dimulai dari lingkungan keluarga. Dari rumah, budaya membaca dan belajar kemudian dapat berkembang ke sekolah, komunitas hingga lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Dengan capaian IPLM Kaltim sebesar 44,11 dan posisi tujuh besar nasional, penguatan literasi di Kaltim diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, berkarya, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.


