lenterakalimantan.com, MAJENE – Puakkali Malunda memiliki nama asli KH. Muhammad Husain. Ayahnya dikenal dengan sapaan Puaq Bunga. Bapak Puaq Bunga berasal dari Malunda dan ibu dari Onang. Adapun ibunda Pukkali Malunda bernama Cindaraq yang disapa dengan nama Pueq Rakka, yang berasal dari Rantebulawan.
Perkawinan Puaq Bunga dengan Cindaraq menghasilkan empat orang anak yakni tiga perempuan, yaitu Laba, Tuing, dan satu lagi yang belum diketahui namanya, serta satu anak laki-laki, itulah Muhammad Husain atau Pukkali Malunda yang merupakan anak ketiga.
Sebelum menjabat qadi, Pukkali Malunda bukanlah namanya (Husain), tapi “I Balanda”. Itu disebabkan penampilan fisiknya tidak sebagaimana anak-anak Malunda pada umumnya. KH. Husain memiliki orang tua dari ras yang berbeda. Dengan kata lain, Husain memiliki kulit dan wajah yang putih bahkan konon bola matanya juga berbeda.
Fisik Pukkali Malunda yang istimewa tersebut pernah menimbulkan beberapa kasus unik. Ketika masih kanak-kanak, kala I Balanda ikut kerabatnya berlayar ke Makassar, ada kejadian ia diciumi (tampak seperti dijilati) oleh orang Arab pedagang kain bombai. Katanya, “Anak ini memiliki keistimewaan.” Jauh sebelum itu, ketika masih bayi, I Balanda pernah disembunyikan kucing.
Lain waktu, di Majene, I Balanda pernah diambil oleh penguasa Belanda, Tuan Petor. Soalnya, I Balanda disangka keturunan Belanda. Hal itu membuat orangtuanya panik. Dia datang ke kantor pemerintah Belanda untuk membuktikan bahwa I Balanda adalah anak lokal dan memohon agar dikembalikan. Saat I Balanda pulang, ia diberi bekal roti oleh orang Belanda asli.
Orang tua I Balanda memiliki pekerjaan sebagaimana masyarakat Malunda pada umumnya. Bapaknya bertani dan berkebun, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga yang juga penenun sutera. Sebab memiliki darah bangsawan, ibu Pukkali Malunda pernah hidup bersama Andi Depu (Raja Balanipa ke-50) di Kerajaan Mamuju. Di sana mereka sama-sama menenun.
Rutinitas Pukkali Malunda secara garis besar adalah berada di Masjid untuk shalat subuh. Selesai shalat dan sarapan, dengan berjalan kaki, Pukkali Malunda menuju kebun atau ladangnya. Pekerjaan membersihkan dan menanam dijalaninya sendiri, dibantu orang kampung. Menjelang tengah hari, Pukkali Malunda balik ke rumah untuk menjalankan ibadah shalat dhuhur di Masjid. Demikian juga waktu ashar.
Sore hari diisi dengan mengaji atau mempelajari kitab dan memberi makan ternaknya. Malamnya, di antara magrib dan isya, Pukkali Malunda bertausiah tentang ilmu agama di Masjid.
Pukkali Malunda memiliki banyak kitab. Suatu waktu ia ke pedalaman untuk menyebarkan agama Islam. Untuk membawa kitab perlu empat orang.
Ada kitab yang sangat berharga dimiliki Pukkali Malunda, yang konon di Sulawesi Selatan waktu itu hanya dimiliki tiga orang. Selain Pukkali Malunda adalah Syaikh Hasan dan Ambo Dalle. Begitu berharganya kitab tersebut, untuk bisa memilikinya Pukkali Malunda harus menjual 40 ekor ternaknya.
Pukkali Malunda juga biasa melakukan pelayaran untuk berdagang bersama kerabatnya. Ada perahu baqgo, bernama Kaneko, yang sering digunakan berlayar ke Makassar untuk menjual kopra. Pernah terjadi insiden, kala pelayaran ke Kalimantan Timur untuk mencari dana pembangunan masjid, perahu mengalami kerusakan. Mereka pun terseret arus ke arah utara untuk kemudian dilabuhkan di sekitar Ujung Lero (Pinrang, Pare-pare).
Sambil menunggu perahu diperbaiki, Pukkali Malunda tinggal beberapa saat di Ujung Lero. Menyadari ada Pukkali Malunda, masyarakat Ujung Lero mendatangi Pukkali Malunda meminta barakahnya. Saat datang, para peziarah itu kadang memasukkan uang ke tempat infaq. Ketika akan pulang, pengikut Pukkali Malunda melapor ke Pukkali bahwa terkumpul uang sekian juta rupiah.
Tapi oleh Pukkali Malunda, uang yang diambil sesuai yang dibutuhkan untuk pembangunan mesjid. Sebagian besar sisanya ditinggalkan, disumbangkan ke Masjid Lero.
Suatu waktu, Pukkali Malunda mengadakan pelayaran ke Kalimantan Timur. Juga ikut serta salah seorang cucunya. Di tengah laut, perahu bocor, mesin rusak karena terendam air.
Pukkali pun meminta awak perahu untuk menimba dan menutup mesin dengan karung. Ajaibnya, hanya timba beberapa kali air langsung surut di dalam lambung perahu dan mesin pun kembali aktif. Ketika tiba di tujuan, saat karung penutup mesin dibuka, tampak mesin yang sangat rusak, yang menurut akal tak mungkin bisa digunakan dalam pelayaran.
Usia lanjut tak menjalani kegiatan hidup Pukkali Malunda. Tetap bertani, jalan kaki jauh dijalaninya dan menjalani gaya hidup sehat, misalnya tidak merokok. Begitu sehat tubuhnya, penyakit usia lanjut, seperti pendengaran dan penglihatan berkurang tidak dialami. Gigi pun tak ompong.
Menyadari orangtuanya belum menunaikan salah satu rukun Islam, oleh anak Pukkali Malunda mendorong ayahnya untuk beribadah haji. Awalnya pihak pengelola haji seakan tak memberi ijin sebab umur yang sangat tua.
“Kalau memang saya akan wafat di sana, itu tidak apa-apa,” tanggap Pukkali Malunda. Singkat kata, kerabat Pukkali Malunda pun melengkapi proses pengurusan haji. Waktu itu, 1992, ongkos naik haji masih Rp 3,6 juta.
Sewaktu di Mekkah, Pukkali Malunda pernah terjatuh. Dia dibantu bangun oleh salah seorang jamaah yang juga berasal dari Mandar, yaitu H. Rahmat. Sejak kejadian itu, kondisi fisik Pukkali Malunda menurun. Kurang sepekan semenjak tiba di kampung halaman, di Malunda, di rumah kerabatnya Pukkali Malunda merasa dirinya akan dipanggil Allah SWT.
Menjelang wafat, Pukkali Malunda bertanya “Apakah semua anak dan keluarga dekatnya sudah berkumpul semua?”. Ketika semua sudah berkumpul, dengan takzim, dengan posisi tetap berbaring, Pukkali Malunda melakukan gerakan takbir, mendekapkan kedua tangan ke dadanya. Tak lama kemudian beliau wafat. Pukkali Malunda wafat setelah Isya, 27 Juni 1992 atau 28 Dzulhijjah. Keesokan harinya, Pukkali Malunda dimakamkan di depan Masjid Malunda.


