lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Langit abu-abu dan hujan gerimis tidak menyurutkan semangat relawan Sekolah Rakyat Merdeka Kalsel Cabang Banjarmasin untuk melapak di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTA) Banua Anyar, Banjarmasin Timur pada Minggu (26/1/2025).
Puluhan buku anak-anak, lembaran sketsa, alat tulis serta lukis bergelimpangan di terpal. Anak-anak asyik menggambar didampingi oleh orang tua dan relawan. Di sisi lainnya, ada pula yang tengah serius mendengarkan tuturan cerita dari relawan.
“Sekarang anak-anak jarang senang membaca buku dan berinteraksi dengan kawan sepantarannya. Ada pula anak yang jarang diperbolehkan orang tuanya bermain. Sekolah Rakyat ada dengan harapan anak bisa mendapatkan pendidikan alternatif yang menyenangkan seperti membaca, mewarnai dan mendengarkan dongeng,” jelas Ketua Sekolah Rakyat Merdeka Kalsel Cabang Banjarmasin., Ade Kurniawan.
“Dampak kehadiran Sekolah Rakyat Merdeka Kalsel sangat besar. Contohnya, di Kampung Pelangi, pinggir Banjarbaru, setelah beberapa bulan anak-anak jadi rajin membaca dan rutin mampir ke lapak. Orang tua kadang menanyakan mengenai lapak,” imbuh Ade.
Jumlah relawannya sekitar 35 orang di Banjarmasin dan Banjarbaru. Agenda rutin mingguannya ada lapak membaca buku dan mewarnai, bulanan ada upgrading relawan dan tahunan ada kolaborasi dengan rumah yatim dan panti asuhan.
“Kami juga bekerja sama dengan berbagai sekolah dan universitas, misalnya Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA), Universitas Islam Negeri (UIN) Pangeran Antasari Banjarmasin. Biasanya, mereka mengajukan tema sendiri. Teknisnya akan bekerja sama dengan relawan untuk mengajar, mendongeng atau mendampingi anak-anak,” ujar Wakil Ketua Sekolah Rakyat Merdeka Kalsel Cabang Banjarmasin, Muhammad Naufal Al-Farisi menimpali di tempat yang sama.
Tak hanya itu, Sekolah Rakyat Merdeka Kalsel juga memiliki program Rombel (Rombongan Belajar) yang tahun lalu sukses diselenggarakan selama sembilan pertemuan sekitar empat bulan di Warkop Narasi.
“Kurikulumnya menyesuaikan dengan anak yang mendaftar, dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kota 4 Banjarmasin. Ada beberapa tentor yang mengajarkan calistung dan muatan lokal,” lanjut Naufal.
“Harapannya, Sekolah Rakyat Merdeka Kalsel Cabang Banjarmasin lebih dikenal lagi. Keberadaan kami sesungguhnya adalah satir bagi pemerintah supaya mereka tersindir. Instansi pemerintah seharusnya memberikan bantuan misalnya donasi buku. Anak-anak dibantu untuk belajar bersama,” tandasnya.
Kaila, siswi kelas enam Sekolah Dasar (SD) bercerita ia sering datang ke lapak Sekolah Rakyat. “Saya suka membaca dan menggambar di sini. Kakak relawannya sering membantu membacakan buku,” ujarnya.
Temannya, Balqis, siswi kelas dua SD mengaku belum lancar membaca, akan tetapi ia menyenangi buku-buku yang ada di lapak.
Cita-Cita Mulia untuk Anak Bangsa
Sekolah Rakyat Merdeka kini tersebar di beberapa 25 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, antara lain Sumatera, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi.
Wira Surya Wibawa, pendiri Sekolah Rakyat Merdeka yang tengah menempuh studi S-2 Hukum di Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari bercerita mengenai latar belakang terbentuknya Sekolah Rakyat Merdeka pada 2021 lalu. Ia melihat sangat sedikit pendidikan formal yang bisa dinikmati anak-anak.
“Di Kalimantan Selatan sendiri, secara geografis Kalsel banyak wilayah yang sulit dijangkau. Kemudian secara sosial, ada banyak ketimpangan, misalnya tidak ada sekolah, guru, buku pelajaran, perpustakaan layak,” tuturnya.
Ia merasa prihatin banyak anak-anak yang gagal menempuh pendidikan karena terhalang ekonomi. Sudah begitu, ujian nasional atau penyetaraan paket biayanya mahal.
“Kini, persyaratan melamar kerja minimal punya ijazah sekolah 12 tahun. Sekolah Rakyat harapannya nanti bisa membantu anak-anak tidak mampu untuk mengejar paket A dan C serta merekomendasikan yang sudah usia kerja ke Balai Latihan Kerja (BLK),” ucapnya.
Terkait metode belajar, Sekolah Rakyat Merdeka menyesuaikan dengan kebutuhan siswanya. Pertama, pola visual, seperti menayangkan film dokumenter, film ajar. Kedua, pola auditori, seperti mendongeng dan menceritakan ulang isi buku. Terakhir, pola kinetik atau gestur tubuh.
Wira menekankan kegiatan Sekolah Rakyat Merdeka senantiasa di ruang publik bertujuan mengembalikan esensinya sebagai ruang aman bersama, terkhusus untuk anak-anak.
“Seharusnya tidak ada seksisme, kata-kata kasar, aktivitas tidak wajar di ruang publik. Alih-alih merusaknya, Sekolah Rakyat memanfaatkannya dengan beraktivitas dan merawat baik fasilitas publik,” ucapnya.
Namun, sayangnya pemerintah daerah dan kabupaten/kota di Kalsel minim respons dan bantuan untuk Sekolah Rakyat Merdeka Kalsel. Justru, bantuan uang dan donasi berdatangan dari organisasi, komunitas, aliansi bahkan masyarakat,
“Pendanaan bukan dari proposal tetapi kebanyakan bantuan swadaya dan dananya dimanfaatkan untuk tentor, aktivitas sekolah rakyat. Solidaritas antara masyarakat, anak-anak, mitra dan aliansi adalah sesuatu yang membuat Sekolah Rakyat Merdeka tetap hidup,” ujar Wira.
Ia berpesan, bahwa siapapun bisa mengajar terlepas dari latar belakangnya. Sekolah Rakyat Merdeka hadir untuk memerdekakan setiap manusia untuk belajar apapun.
“Setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Sekolah tempat berbagi, bermain dan berkeluarga. Pendidikan jangan sampai kendur karena kendala biaya. Teruslah sekolah dan belajar dan bercita-citalah setinggi-tingginya,” tuntas Wira.


