
lenterakalimantan.com, PARINGIN – Di momen Ramadan 1446 Hijriah, Pawadahan Nanang Galuh Balangan, membagikan ratusan takjil gratis di Pusat Bundaran kota Paringin, dalam upaya melestarikan kuliner khas lokal, Sabtu (8/3/2205).
Kegiatan ini bukan sekadar aksi berbagi, tetapi menjadi sarana dalam mengenalkan, serta melestarikan kuliner khas Balangan kepada masyarakat, khususnya bagi kaum milenial.
Takjil yang dibagikan tentunya bukan makanan biasa, melainkan sebuah jajanan, atau biasa disebut oleh orang Banjar sebagai kudapan tradisional, seperti amparan tatak, yang memiliki tampilan khas dengan tekstur lembut dan cita rasa manis, dari santan serta pisang, menjadi daya tarik utama.
Selain berbagi makanan, kegiatan ini juga menghadirkan sesi edukasi kuliner yang dipandu oleh Nanang dan Galuh Balangan.
Mewakili Nanang Galuh Balangan, pemuda yang akrab disapa Ferdy, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan semangat kebersamaan, sekaligus menjaga kekayaan khas kuliner daerah.
“Kami ingin berbagi kebahagiaan di bulan penuh berkah ini, sekaligus memastikan kuliner tradisional Balangan tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda kita,” ujarnya.
Senada dengan rekannya, Galuh Balangan 2024, Fitri Nadia, menyampaikan tentang sejarah dan bahan baku makanan khas yang dibagikan. Tak lupa ia juga mengajak masyarakat, untuk lebih mengenal dan menghargai warisan kuliner daerah agar tetap dikenal.
Baca juga: BPBD Gaungkan “Balangan Bermunajat”, Mitigasi Bencana Lewat Doa Bersama
“Kue amparan tatak, misalnya, punya tekstur lembut dengan rasa khas yang didapat dari santan dan pisang. Ini adalah salah satu kuliner yang banyak diminati saat Ramadan, tentunya bagi para orang tua,” ujarnya.
Menurutnya, di era sekarang, banyak sekali kalangan muda, tidak mengenal secara jelas tentang kuliner khas lokal, padahal ini merupakan sebuah warisan yang patut dijaga dan dilestarikan.
“Para generasi muda saat ini, sebagian besar bisa dikatakan tidak mengetahui yang namanya kuliner khas lokal, namun mereka tahu tapi tidak mau mengenal, seperti amparan tatak, karena ketidaktahuan atau memang tidak ingin mengetahui, mereka menyebutnya, ‘wadai puti’ padahal namanya adalah amparan tatak,” ucap Galuh Balangan 2024, Fitri Nadia, sambil tersenyum.
Tak hanya mengenalkan, komunitas ini juga mengajak masyarakat memahami proses pembuatan kuliner khas agar tradisi ini tetap lestari.
Kegiatan ini diharapkan menjadi agenda tahunan, yang tak hanya memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga semakin membanggakan identitas kuliner Kabupaten Balangan di tengah arus modernisasi.
Editor: Rian

