lenterakalimantan.com, RANTAU – Bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memicu respons cepat dari PT Bhumi Rantau Energi (BRE). Tanpa menunggu lama, perusahaan langsung mengerahkan bantuan skala besar melalui program BRE Peduli Bencana Sumatra.
Sebanyak lima truk logistik kebutuhan pokok dikirimkan untuk membantu para pengungsi. Bantuan ini disalurkan melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan diteruskan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk proses distribusi di lapangan.
Untuk mempercepat penyaluran, seluruh logistik diberangkatkan menggunakan pesawat kargo dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju daerah terdampak. Upaya ini diambil agar bantuan dapat segera menjangkau masyarakat yang tengah menghadapi masa tanggap darurat.
Isi bantuan mencakup makanan cepat saji, minuman siap konsumsi untuk dewasa, kebutuhan khusus ibu, dan makanan cepat saji untuk anak-anak. Seluruhnya difokuskan untuk memenuhi kebutuhan mendesak para pengungsi, terutama kelompok rentan.
Perwakilan manajemen PT BRE, Andre Febriansyah, menegaskan bahwa kepedulian sosial menjadi komitmen perusahaan, terlebih saat masyarakat membutuhkan dukungan.
“Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Semoga penyaluran cepat ini membantu mereka melewati masa sulit,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kecepatan tindakan menjadi faktor krusial agar dampak bencana tidak semakin menekan kondisi korban.
Apresiasi disampaikan oleh Kasubag Rumah Tangga Menteri ESDM Biro Umum, Desak Made Andariyani, yang menilai kolaborasi pemerintah dan perusahaan swasta sangat dibutuhkan dalam situasi darurat.
“Terima kasih kepada PT BRE atas kerja sama dan dukungannya. Semoga bantuan ini memberi manfaat bagi masyarakat yang sedang menghadapi musibah,” tuturnya.
Melalui program CSR BRE Peduli, PT Bhumi Rantau Energi kembali menegaskan tekadnya untuk terlibat aktif dalam upaya kemanusiaan, tidak hanya dalam kegiatan operasional perusahaan.
Editor: Muhammad Tamyiz


