lenterakalimantan.com, MARTAPURA – Sidang lanjutan kasus pembunuhan yang terjadi di Kawasan Pendulangan Dusun Oman, Desa Paramasan, Kabupaten Banjar, digelar di Pengadilan Negeri Martapura, pada Kamis (5/2/2026).
Terdakwa, Fatimah, istri korban, dan adiknya Parhan alias Papar, mengikuti persidangan secara daring melalui Zoom Meeting untuk menjaga keamanan, mengingat kasus ini mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Jaksa Penuntut Umum (JPU), Radityo Wisnu Aji, menyebut bahwa langkah menghadirkan terdakwa secara daring diambil untuk mengantisipasi risiko selama persidangan.
“Kami mempertimbangkan faktor keamanan mengingat perkara ini menjadi atensi masyarakat yang dikhawatirkan ada resiko yang tidaj diiingkan,” ujarnya.
Dalam persidangan, JPU menegaskan bahwa kedua terdakwa dituntut hukuman mati karena perbuatan mereka tergolong sangat sadis.
Kejadian bermula dari pertengkaran antara Fatimah dan korban, pasangan suami istri, pada 16 Juli 2025. Pertengkaran verbal berkembang menjadi kekerasan fisik ketika korban memukul Fatimah yang tengah menggendong anak mereka. Situasi memanas saat korban disebut melempar anak tersebut ke tepi sungai.
Dalam kondisi terdesak, Fatimah mengambil sebilah parang dan menyerang korban. Tak lama kemudian, Parhan datang dari arah sungai dan ikut menyerang korban.
Serangan dilakukan berulang kali hingga menyebabkan luka parah; salah satu tangan korban terputus, sebelum kepala korban dipisahkan dan dibuang ke aliran sungai.
Radityo menambahkan bahwa sebelum pembunuhan terjadi, para terdakwa sempat mengonsumsi narkotika jenis sabu.
“Hal-hal ini membuat pertimbangan kani menjadi hal hal yang memberatkan bagu para terdakwa, kami berpendapat cukup untuk mendapat hukuman mati,” tegasnya.
Setelah tuntutan dibacakan, hakim menunda persidangan untuk memberi kesempatan penasihat hukum berkomunikasi dengan terdakwa dan menyiapkan pembelaan, sesuai ketentuan KUHP terbaru.
Kasus ini menjadi perhatian publik karena tingkat kekejaman para terdakwa. Penggunaan Zoom Meeting dianggap langkah aman untuk menghadirkan terdakwa, sementara persidangan berikutnya akan fokus pada pembelaan yang disampaikan penasihat hukum.
Editor: Rizki












