lenterakalimantan.com, TANJUNG – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tanjung bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Tabalong menggelar diskusi panel, di Balai Rakyat Dandung Suchrowardi, Kamis (5/2/2026).
Diskusi panel membahas tentang relevansi program prioritas milik Pemkab Tabalong, yaitu mencetak 1000 sarjana dengan kebutuhan pembangunan daerah, dengan menghadirkan akademisi, Prof. Uhaib As’ad, sebagai narasumber utama.
Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Milad HMI ke-97 ini dibuka langsung Asisten Pemerintahan dan Kesra, Abu Bakar Sidiq, mewakili Bupati Tabalong.
Abu menyampaikan program Beasiswa 1000 Sarjana merupakan bagian dari upaya konkret pemerintah dalam mewujudkan pilar Tabalong SMaRT, khususnya pada aspek peningkatan kualitas SDM.
“Kami berharap para penerima beasiswa ini kelak tidak hanya menjadi lulusan perguruan tinggi, tetapi menjadi SDM Tabalong yang SMaRT, yakni memiliki pengetahuan, keterampilan, integritas, serta kepedulian terhadap daerahnya,” ujar Abu saat membacakan sambutan Bupati.
Melalui diskusi panel ini, pihaknya berharap dapat dirumuskan gagasan dan rekomendasi yang konstruktif agar program 1.000 sarjana benar-benar relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
“Baik di bidang pendidikan, infrastruktur, ekonomi, energi, pertanian, maupun sektor-sektor strategis lainnya, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” bebernya.
Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Tabalong sangat terbuka terhadap kolaborasi dan sinergi dengan HMI dan KAHMI sebagai mitra strategis pembangunan daerah.
“Ini dalam rangka bersama-sama mewujudkan Tabalong SMaRT,” kata Abu lagi.
Sementara itu, Koordinator Presidium Majelis Daerah KAHMI Tabalong, Kadarisman, menilai bahwa program Beasiswa 1000 sarjana dari Pemerintah Tabalong adalah jawaban kritis yang senafas dengan tujuan HMI.
“Namun desain hulu beasiswa ini mesti bertaut pada desain kebijakan pada hilirisasinya. Jika desain hilirisasi kebijakannya tidak disiapkan dengan baik, 1000 sarjana hanya akan melahirkan pengangguran baru intelektual,” katanya.
Kadarisman meminta program 1000 sarjana ini tak berhenti pada persoalan organik perkuliahan.
“Sehingga mahasiswa lupa mengasah soft skill dan kosong dari kecerdasan emosional serta sosial yang menjadi modal pentingnya dalam relasi kehidupannya kelak,” ucapnya.
Di tempat yang sama, Ketua Pelaksana Milad HMI ke-97, Ahmad Badaruddin, mengatakan dalam milad kali ini ada bakti sosial berupa donor darah, diskusi panel dan diskusi ruang publik internal.
“Selain diskusi panel kita melaksanakan donor darah dan diskusi ruang publik internal,” jelasnya.
Editor: Rizki












