lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Kinerja sektor jasa keuangan di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) pada awal 2026 terpantau stabil. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setempat menyebutkan aktivitas lembaga jasa keuangan di daerah tersebut masih menunjukkan pertumbuhan positif dengan tingkat risiko yang tetap terjaga.
Dalam siaran pers yang dirilis di Banjarmasin, baru-baru ini, OJK menyampaikan kondisi ekonomi global secara umum masih relatif baik. Hal ini didorong oleh penguatan sektor manufaktur global dan meningkatnya kepercayaan konsumen.
Meski demikian, OJK menilai tensi geopolitik di awal 2026, termasuk situasi di Timur Tengah serta dinamika perdagangan Amerika Serikat, masih menjadi faktor risiko yang berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan global.
Ekonomi Kalsel Tumbuh 5,46 Persen
Secara regional, perekonomian Kalimantan Selatan pada kuartal IV 2025 tercatat tumbuh sebesar 5,46 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,19 persen.
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan sepanjang 2025 mencapai 5,22 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada angka 5,11 persen.
Tiga sektor utama yang menopang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan Selatan adalah sektor pertambangan dengan kontribusi 23,20 persen, sektor pertanian sebesar 12,68 persen, serta industri pengolahan sebesar 11,37 persen.
Kredit Perbankan Tumbuh Positif
Kinerja intermediasi perbankan di Kalimantan Selatan juga menunjukkan tren positif. Pada Januari 2026, total kredit yang disalurkan mencapai Rp82,29 triliun atau tumbuh 6,71 persen secara tahunan.
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) sebesar 2,63 persen.
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 28,16 persen, diikuti kredit konsumsi yang tumbuh 6,78 persen. Sementara itu, kredit modal kerja mengalami kontraksi sebesar 8,23 persen.
Penyaluran kredit investasi terbesar tercatat di Kota Banjarmasin dengan nilai mencapai Rp19,05 triliun.
Sementara itu, porsi kredit untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai 26,86 persen dari total kredit di Kalimantan Selatan. Sektor industri pengolahan menjadi penerima pembiayaan UMKM terbesar dengan pertumbuhan mencapai 21,90 persen.
DPK dan Aset Perbankan Meningkat
OJK juga mencatat pertumbuhan sejumlah indikator perbankan lainnya. Aset perbankan di Kalimantan Selatan meningkat 6,05 persen secara tahunan.
Dana pihak ketiga (DPK) turut tumbuh 5,68 persen. Pertumbuhan terbesar berasal dari giro yang meningkat 11,97 persen, disusul tabungan yang naik 3,92 persen dan deposito yang tumbuh 0,74 persen.
Secara wilayah, Kota Banjarmasin menjadi daerah dengan pangsa DPK terbesar, yakni mencapai Rp61,2 triliun atau sekitar 62,42 persen dari total DPK di Kalimantan Selatan.
Jumlah Investor Pasar Modal Bertambah
Kinerja pasar modal di Kalimantan Selatan juga menunjukkan tren positif. Hingga Desember 2025, nilai transaksi saham tercatat mencapai Rp3,62 triliun.
Jumlah investor saham juga meningkat signifikan dengan total Single Investor Identification (SID) mencapai 497.131 investor.
Selain itu, instrumen reksa dana turut mengalami penguatan dengan nilai penjualan mencapai Rp0,715 triliun dan jumlah investor sebanyak 995.860 SID.
Pembiayaan Online Tumbuh Pesat
Di sektor Industri Keuangan Nonbank (IKNB), sejumlah indikator juga menunjukkan perkembangan positif. Outstanding pembiayaan pinjaman daring (pindar) tercatat mencapai Rp1,026 triliun atau tumbuh 31,13 persen secara tahunan dengan tingkat risiko kredit (TWP90) sebesar 2,26 persen.
Selain itu, piutang perusahaan pembiayaan tercatat sebesar Rp11,89 triliun, pembiayaan modal ventura sebesar Rp97 miliar, serta aset bersih dana pensiun yang meningkat menjadi Rp377 miliar.
Edukasi Keuangan dan Perlindungan Konsumen
Sepanjang Januari hingga Februari 2026, OJK Kalsel telah melaksanakan 11 kegiatan edukasi keuangan yang diikuti oleh 1.063 peserta.
Materi yang disampaikan meliputi pengenalan OJK, produk lembaga jasa keuangan, serta edukasi kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal.
Selama periode tersebut, layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang diproses OJK mencapai 3.489 permintaan, dengan mayoritas melalui layanan walk-in.
OJK juga menerima 177 pengaduan konsumen, yang sebagian besar berasal dari sektor fintech peer-to-peer lending, bank umum, dan perusahaan pembiayaan.
Dorong Akses Keuangan Masyarakat
Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kalimantan Selatan terus menjalankan berbagai program untuk meningkatkan inklusi keuangan masyarakat.
Beberapa program yang dijalankan pada 2026 antara lain Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir (K/PMR), program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), pengembangan ekosistem keuangan inklusif di wilayah perdesaan, program bank sampah, serta kegiatan product dan business matching.
OJK menegaskan akan terus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Editor: Tim Redaksi


