lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menilai kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan di Kalsel hingga Mei 2026 masih terjaga stabil dengan tingkat risiko yang terkendali, meski menghadapi tekanan dari ketidakpastian geopolitik global dan inflasi.
Kepala OJK Provinsi Kalsel, Agus Maiyo, baru-baru ini menyebutkan kondisi perekonomian global masih dipengaruhi dinamika geopolitik, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah. Namun, tekanan pada pasar energi global mulai mereda, tercermin dari harga minyak yang berangsur kembali mendekati level sebelum konflik.
Meski demikian, risiko geopolitik masih perlu menjadi perhatian karena stabilitas kawasan masih rentan terhadap potensi eskalasi baru. Kondisi tersebut berpotensi berdampak terhadap biaya logistik komoditas ekspor Kalimantan Selatan, seperti batu bara dan kelapa sawit, serta harga bahan baku.
“Di tengah tantangan eksternal tersebut, perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan I 2026 tetap menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,67 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 sebesar 5,46 persen (yoy) dan sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen (yoy),” paparnya saat melaksanakan media update bersama Forum Wartawan Ekonomi Kalsel, Selasa (28/7/2026).
Sementara itu, tekanan inflasi di Kalsel tercatat sebesar 4,47 persen (yoy) pada Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 3,08 persen. Kenaikan inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga emas perhiasan, beras, dan minyak goreng.
OJK menilai tingginya kontribusi emas perhiasan terhadap inflasi di Kalsel tidak terlepas dari tingginya daya beli masyarakat terhadap komoditas tersebut. Selain faktor ekonomi, emas perhiasan juga memiliki keterkaitan dengan aspek budaya dan sosial masyarakat setempat.
Sebagai langkah diversifikasi investasi, masyarakat didorong untuk mempertimbangkan alternatif instrumen investasi lain, seperti emas batangan, tabungan emas digital, Surat Berharga Negara (SBN), Sukuk Ritel, maupun sektor riil.
Pertumbuhan ekonomi Kalsel yang tetap positif turut didukung oleh peningkatan fungsi intermediasi perbankan yang tumbuh solid, baik dari sisi penyaluran kredit, aset, maupun penghimpunan dana pihak ketiga (DPK).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan di Kalsel masih memiliki daya tahan yang baik dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah di tengah dinamika perekonomian global.
Editor: Tim Redaksi


