lenterakalimantan.com, BANJARBARU – Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) mendorong para pengembang di Kalimantan Selatan (Kalsel) tidak hanya berorientasi pada pembangunan rumah, tetapi juga memperkuat tata kelola bisnis agar usaha dapat bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP APERSI, Deddy Indrasetiawan, dalam kegiatan APERSI yang berlangsung di Hotel Grand Maya by ARTOTEL Banjarbaru, Jumat (11/9/2026).
Deddy mengatakan, kenaikan harga pokok pembangunan (HPP) menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pengembang. Meski demikian, APERSI tetap mendorong anggota, khususnya di Kalsel, untuk terus membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap hunian masih tinggi sehingga pengembang diharapkan tetap mengambil bagian dalam penyediaan rumah rakyat.
“HPP bangunan terus mengalami kenaikan. Namun, kami di DPP tetap meminta teman-teman di DPD Kalsel untuk terus membangun perumahan, khususnya bagi MBR, karena sampai hari ini masih banyak masyarakat yang membutuhkan rumah,” ucap Deddy.
Ia juga mengajak para pengembang untuk tidak semata-mata mengejar keuntungan. Dalam kondisi tertentu, pengembang dapat menekan margin keuntungan sebagai bentuk kontribusi terhadap penyediaan hunian bagi masyarakat.
“Saya mengimbau seluruh anggota APERSI Kalsel agar kita bisa berbagi, salah satunya dengan mengurangi profit. Kita anggap itu sebagai bagian dari partisipasi dalam membangun rumah rakyat, sehingga masyarakat Indonesia bisa semakin sejahtera,” ujarnya.
Selain persoalan pembangunan, Deddy menekankan pentingnya perubahan pola pikir pengembang dalam menjalankan bisnis. Menurutnya, developer harus mulai membangun perusahaan yang memiliki sistem dan visi jangka panjang, bukan hanya mengejar penyelesaian proyek.
Ia berharap anggota APERSI dapat meningkatkan kapasitas manajemen dan naik kelas dari sekadar developer menjadi CEO yang mampu mengelola perusahaan secara profesional.
“Jangan hanya berpikir bagaimana membangun rumah, tetapi pikirkan bagaimana perusahaan ini bisa terus berkembang dan bertahan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Saya berharap anggota APERSI pulang dari kegiatan ini dengan pola pikir yang lebih maju dan naik kelas,” tegasnya.
Deddy juga mengingatkan pentingnya menjaga arus kas atau cash flow perusahaan. Menurutnya, pengelolaan keuangan menjadi salah satu kunci agar bisnis properti tetap sehat dan mampu menghadapi berbagai tantangan.
Sementara itu, Ketua DPD APERSI Kalsel, Hj Wahidah Mukhtar, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan memberikan wawasan dan pemahaman kepada pengembang mengenai berbagai persoalan yang dihadapi dalam menjalankan bisnis perumahan.
Ia menyebut, salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah batas tanggung jawab developer setelah proses akad kredit dengan perbankan dilakukan.
“Beberapa narasumber hari ini mudah-mudahan membantu kami sebagai developer untuk menjaga keamanan usaha. Jangan sampai semua permasalahan menjadi tanggung jawab developer. Setelah akad kredit, ada hubungan antara konsumen dengan perbankan, sehingga tidak semua persoalan yang terjadi setelahnya menjadi tanggung jawab developer,” jelas Wahidah.


