Menurut Wahidah, pengembang juga menghadapi sejumlah kendala di lapangan, mulai dari persoalan perizinan, dukungan pemerintah daerah, hingga implementasi kebijakan lintas kementerian.
Persoalan infrastruktur dasar seperti ketersediaan air bersih juga menjadi tantangan bagi sejumlah kawasan perumahan di Kalsel.
Wahidah mencontohkan kondisi di salah satu kawasan perumahan yang dikelolanya. Hingga kini, pelayanan air bersih dari PDAM belum berjalan optimal sehingga developer harus turun tangan membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat.
“Di lokasi kami, persoalan PDAM belum berjalan sejak awal perusahaan membuka kawasan tersebut. Kami sudah beberapa kali berkoordinasi dengan pihak PDAM. Alasannya karena booster belum terbangun untuk kawasan tersebut,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Wahidah, bahkan berdampak terhadap keberlanjutan hunian. Sejumlah konsumen disebut memilih meninggalkan rumah karena kesulitan memperoleh air bersih.
“Untuk kebutuhan air sehari-hari kami sebagai developer harus membantu menyediakan air. Bahkan pernah untuk memandikan jenazah, kami membantu menyediakan air. Ini menjadi persoalan yang sangat sulit, apalagi kondisi tanah di kawasan tersebut merupakan tanah rawa,” ungkapnya.
Di sisi lain, kenaikan harga tanah turut menjadi tantangan bagi pengembang. Namun, Wahidah mengatakan pihaknya berupaya menyiasati kondisi tersebut dengan memaksimalkan lokasi yang sudah tersedia dan menyesuaikan pemasaran dengan kemampuan masyarakat.
“Kita memahami kondisi ekonomi masyarakat. Karena itu, kami masih bertahan dengan lokasi yang ada dan berusaha memasarkan rumah yang tersedia di lokasi tersebut,” ujarnya.
Wahidah berharap kehadiran Ketua Umum DPP APERSI dapat memberikan semangat baru bagi jajaran DPD APERSI Kalsel untuk terus menjalankan pembangunan perumahan, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Kami berharap dengan kehadiran Ketua Umum ini, semangat DPD APERSI Kalsel tetap terjaga untuk terus membangun dan mencapai target yang sudah kami tetapkan,” pungkasnya.
Editor: Tim Redaksi


