Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah harus dimulai dari rumah tangga.
“Kami mengajak seluruh masyarakat, termasuk para relawan damkar yang punya pengaruh besar di lingkungan masing-masing, untuk mulai memilah sampah dari sumbernya. Kalau dari rumah sudah dipisah, pengelolaannya akan jauh lebih mudah dan lingkungan kita lebih bersih,” pesannya.
Menurut Yamin, Banjarmasin memiliki kekuatan besar dalam solidaritas masyarakat melalui keberadaan Balakar yang tersebar di berbagai sudut kota. Namun di sisi lain, sistem penanggulangan kebakaran masih menghadapi tantangan dalam hal koordinasi, peningkatan keterampilan, serta perlindungan bagi relawan yang bertugas di lapangan. Karena itu pemerintah kota berupaya memperkuat pembinaan melalui pelatihan dan kegiatan peningkatan kapasitas.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah menggelar lomba ketangkasan pemadam kebakaran sebanyak dua kali dalam setahun, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Damkar dan Hari Jadi Kota Banjarmasin. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana meningkatkan kemampuan teknis para relawan.
“Kami ingin para relawan tidak hanya cepat bergerak di lapangan, tetapi juga semakin terlatih, profesional, dan mendapatkan perlindungan yang memadai,” katanya.
BACA JUGA: Tinjau Rusun dan Sahur Bersama, Wali Kota Yamin Tegur Dinas soal Fasilitas Warga
Selain sahur bersama, kegiatan tersebut juga diisi tausiah agama oleh Hasanuddin Al-Banjari atau dikenal sebagai UAS Banjar. Dalam ceramahnya bertajuk Memadamkan Api dalam Hati, ia mengingatkan bahwa tugas pemadam kebakaran bukan hanya memadamkan kobaran api, tetapi juga menanamkan ketulusan dan kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat.
“Orang yang mampu memadamkan api di hatinya dari amarah dan kesombongan adalah orang yang mampu menjaga keselamatan dirinya dan orang lain. Karena itu, jasa para pemadam kebakaran adalah pekerjaan yang sangat mulia,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk para relawan pemadam kebakaran yang gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan. Doa yang dipanjatkan pada dini hari itu menjadi pengingat bahwa di balik sirine dan kobaran api, ada pengabdian panjang yang sering kali tidak terlihat oleh publik.
Editor: Tim Redaksi


