lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banjarmasin bersama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menggelar mimbar bebas dan aksi sosial pembagian masker di Kota Banjarmasin, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati momentum “September Hitam” sekaligus merespons kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda Kalimantan Selatan.
Dalam mimbar bebas, mahasiswa menyuarakan berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat, mulai dari pemadaman listrik, keterbatasan air bersih, hingga dampak karhutla terhadap kualitas udara.
Ketua Umum HMI Cabang Banjarmasin, Muhammad Eldi Bajasosa, mengatakan peringatan September Hitam tidak hanya dimaknai sebagai refleksi sejarah, tetapi juga momentum untuk menyuarakan persoalan masyarakat saat ini.
“Mahasiswa harus tetap hadir di tengah persoalan rakyat. Ini bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi bagaimana kita merespons kondisi hari ini,” ujarnya.
Hak Masyarakat atas Udara Bersih
Senada, Ketua DPC GMNI Kota Banjarmasin, Noorhani, menilai persoalan kabut asap tidak bisa dianggap sebagai masalah musiman semata.
Menurutnya, masyarakat memiliki hak atas udara bersih yang harus dijamin, sehingga penanganan karhutla perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua PC IMM Kota Banjarmasin, Andri Zulfadian Fauzi, menyebut aksi tersebut juga menjadi bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat di tengah kabut asap.
“Selain refleksi, ini juga aksi nyata membantu masyarakat agar tetap terlindungi dari dampak kabut asap,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa membagikan lebih dari 2.000 masker kepada warga di dua titik, yakni kawasan lampu merah Flyover Jalan A. Yani dan lampu merah Sungai Andai.
Melalui aksi ini, mahasiswa berharap momentum September Hitam dapat menjadi ruang refleksi sekaligus mendorong gerakan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Editor: Rizki


