lenterakalimantan.com, BATOLA – Seni dan budaya merupakan identitas bangsa yang perlu dilestarikan. Berdasarkan Peraturan Menteri dalam Negeri nomor 52 tahun 2007 tentang pedoman Pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat, dijelaskan mengenai konsep dasar, program, serta strategi pelaksanaan dalam upaya pelestarian kebudayaan bangsa.
Adanya peraturan tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan oeh seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya itu, peranghkat pelestariannya juga dapat melibatkan seluruh pegiat seni budaya, organisasi budaya dan pelaku budaya, pemerintah melalui dinas terkait dan media sosial.
Tanggal 16-18 Desember 2022 yang lalu, pagelaran seni dan budaya leluhur orang Bakumpai di Sungai Getas, sebuah lokasi di Desa Lepasan Kabupaten Barito Kuala. Gelaran dengan menampilkan macam-macam seni dan budaya mulai dari Wayang Kulit, Tari Topeng Klana, Tari Topeng Pantul, Baayun Anak dan syai, tidak kalah penting adalah tampilan Karawitan Bakumpai.
Pagelaran yang dilaksanakan lima tahunan itu sungguh sangat langka, sebab dalam pagalaran ini adalah ajang pertemuan keluarga yang mukim di tempat jauh, mereka pulang kampung halaman hanya untuk ikut dalam kegiatan ini. Kaluarga Bakumpai di Hulu Sungai Barito, Banjarmasin, dan Kotabaru larut dalam suasana pertemuan keluarga.
Ini adalah peristiwa mamparasih lebo atau lebih dikenal sebagai upacara Manyanggar Lebo, dikatakan langka sebab dalam upacara ini rata-rata usia seniman sudah tua, misalnya Apa Dana, penari Panji Klana, sudah 70 tahun. Dalang Madi, walau usia masih muda, tetapi ia satu satunya Dalang Wayang Kulit.
“Sedih saya, belum ada Dalang yang dapat menggantikan saya,” katanya.
Wardi atau Ulak Tuwe, sebagai salah satu tokoh masyarakat Sungei Getas, berharap adanya partisioasi pemerintah daerah dalam melestarikan budaya leluhur ini.
“Kami menghadapi tantangan berat dalam melestarikan budaya. Apalagi sekarang kami berkejaran dengan waktu untuk mendidik anak-anak generasi disini dalam latihan seni, minimal meningkatkan minat terhadap seni dan budaya Bakumpai.” terang mereka.
Antropolog ULM, Setia Budhi, Ph.D, yang leluhurnya berada di kampung ini, menegaskan bahwa melestarikan kebudayaan tradisional di lokasi Sungai Getas ini sebagai arahan yang sangat tepat dan sesuai untuk Kampung Budaya.
Lebih lanjut, guna mencapai tujuan tersebut, pihaknya akan susun beberapa tujuan diantaranya yang sudah dilakukan, identifikasi aspek-aspek yang berpengaruh dalam penentuan lokasi kampung budaya ini.
“Dulu orang tua dan kerabat saya disini pelaku seni, mereka seniman besar yang berada dalam kesunyian, jadi sekarang kami wajib untuk meneruskan dan melestarikannya.” terangnya.


