lenterakalimantan.com, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memastikan bantuan logistik untuk warga terdampak kekeringan di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) telah tiba dan mulai didistribusikan. Bantuan berupa beras dari Bulog tersebut dikirim ke dua kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Long Apari dan Kecamatan Long Pahangai, yang sebelumnya mengalami kesulitan akses akibat surutnya debit air sungai.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, bantuan yang disalurkan mencapai 68,5 ton beras. Untuk Kecamatan Long Apari, bantuan difokuskan di pusat kecamatan, sedangkan di Long Pahangai telah didistribusikan ke 13 kampung. Tim BPBD Mahulu dilaporkan tiba di Ujoh Bilang pada Rabu sore, 13 Agustus 2025, setelah menempuh perjalanan melalui jalur sungai.
Kepala Bidang Kedaruratan Logistik BPBD Kaltim, Sugeng Priyanto, menjelaskan bahwa pendistribusian bantuan sempat terkendala pada awal Agustus karena sungai-sungai utama di Mahulu mengering akibat musim kemarau. Hal ini membuat jalur transportasi air yang menjadi satu-satunya akses ke wilayah tersebut tidak bisa dilalui.
“Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu sempat menetapkan status siaga darurat kekeringan di dua kecamatan. Namun, saat ini musim hujan sudah datang, debit air sungai meningkat, dan akses transportasi sungai kembali normal,” ungkap Sugeng.
Data BPBD Mahulu mencatat jumlah penerima manfaat mencapai 10.143 jiwa atau sekitar 3.400 kepala keluarga. Bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat yang sebelumnya mengalami lonjakan harga beras.
“Dulu harga beras di sana sempat tembus Rp1,1 juta per sak. Dengan adanya bantuan ini, kami berharap harga beras bisa turun dan daya beli masyarakat kembali stabil,” jelas Sugeng.
Selain bantuan logistik, pemerintah daerah bersama Dinas Perdagangan juga merencanakan operasi pasar di dua kecamatan tersebut. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga bahan pokok di masa mendatang.
Terkait wacana penggunaan helikopter untuk pengiriman bantuan, Sugeng mengungkapkan bahwa opsi tersebut kini tidak diperlukan. Menurutnya, secara teknis pengiriman lewat udara membutuhkan biaya tinggi, risiko besar, dan kapasitas muatan terbatas.
“Saat kemarau parah memang ada usulan penggunaan helikopter. Namun, setelah dianalisis, jalur sungai kembali menjadi pilihan yang paling cepat, hemat, dan efektif. Apalagi kondisi cuaca sekarang sudah mendukung,” katanya.
Sugeng menambahkan bahwa koordinasi antara pemerintah provinsi, BPBD kabupaten, dan aparat desa sangat membantu kelancaran distribusi. Setiap kampung di Long Apari dan Long Pahangai memiliki koordinator yang mengatur pembagian bantuan secara merata kepada warga.
Dengan normalnya lalu lintas sungai, proses distribusi bantuan kini berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Pemerintah Provinsi Kaltim menegaskan akan terus memantau situasi di Mahulu, termasuk ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga di pasaran.
“Kami akan terus memantau agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan harga bahan pokok tidak memberatkan warga,” tutup Sugeng.


