• Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
      • Banjarmasin
      • Banjarbaru
      • Barito Kuala
      • Kabupaten Banjar
      • Balangan
      • Hulu Sungai Selatan
      • Hulu Sungai Tengah
      • Hulu Sungai Utara
      • Kotabaru
      • Tabalong
      • Tanah Bumbu
      • Tanah Laut
      • Sukamara
      • Tapin
    • KALIMANTAN TENGAH
      • Palangka Raya
      • Pulang Pisau
      • Seruyan
      • Murung Raya
      • Kotawaringin Timur
      • Barito Selatan
      • Kotawaringin Barat
      • Katingan
      • Kapuas
      • Gunung Mas
      • Barito Utara
      • Barito Timur
    • KALIMANTAN TIMUR
      • Samarinda
      • Bontang
      • Balikpapan
      • Penajam Paser Utara
      • Paser
      • Mahakam Ulu
      • Kutai Timur
      • Kutai Kartanegara
      • Kutai Barat
      • Berau
    • KALIMANTAN BARAT
      • Sambas
      • Mempawah
      • Sanggau
      • Ketapang
      • Sintang
      • Kapuas Hulu
      • Bengkayang
      • Landak
      • Sekadau
      • Melawi
      • Kayong Utara
      • Kubu Raya
      • Pontianak
      • Singkawang
    • KALIMANTAN UTARA
      • Bulungan
      • Nunukan
      • Malinau
      • Tarakan
      • Tana Tidung
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Reading: [OPINI] Habibienomic dan Prabowonomic: Pelajaran Masa Lalu Menuju Paradigma Baru Ekonomi Indonesia
Share
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Font ResizerAa
  • Berita
  • KALIMANTAN TENGAH
  • KALIMANTAN BARAT
  • KALIMANTAN TIMUR
  • KALIMANTAN UTARA
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Kesehatan
  • Opini
Search
  • Home
  • Berita
  • Daerah
    • KALIMANTAN SELATAN
    • KALIMANTAN TENGAH
    • KALIMANTAN TIMUR
    • KALIMANTAN BARAT
    • KALIMANTAN UTARA
  • Nasional
    • Internasional
  • Hukum & Peristiwa
  • Ekonomi
  • Politik
  • Olahraga
  • Wisata
  • Otomotif
  • Opini
  • Kesehatan
  • Mitra Lentera
Follow US
Copyright © 2024 Lentera Kalimantan By LIMBO. All Rights Reserved.
Home [OPINI] Habibienomic dan Prabowonomic: Pelajaran Masa Lalu Menuju Paradigma Baru Ekonomi Indonesia
Opini

[OPINI] Habibienomic dan Prabowonomic: Pelajaran Masa Lalu Menuju Paradigma Baru Ekonomi Indonesia

lenterakalimantan.com
lenterakalimantan.com
Share
5 Min Read
Tody A. Prabu, S.H.
SHARE

oleh: Tody A. Prabu, S.H
Sekretaris JMSI Pengda Jawa Barat
Ketua Umum Rakyat Indonesia Unggul

Contents
Habibienomic: Pelajaran dari Masa TransisiPolitik dan Ekonomi yang Tidak TerpisahkanPrabowonomic dan Arah Ekonomi BaruTantangan Geopolitik dan EnergiMenuju Paradigma Baru

Stabilitas ekonomi sebuah negara sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpinnya merumuskan kebijakan yang menjaga kepercayaan pasar, baik di dalam negeri maupun di tingkat global. Dalam sejarah Indonesia, setiap presiden membawa pendekatan ekonomi yang berbeda, mulai dari apa yang sering disebut sebagai Soehartonomic, Gusdurnomic, Megawatinomic, SBYnomic, hingga Jokowinomic.

Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, publik menanti arah kebijakan ekonomi baru yang dapat disebut sebagai Prabowonomic—sebuah pendekatan yang diharapkan mampu menjawab tantangan ekonomi nasional sekaligus dinamika geopolitik global.

Habibienomic: Pelajaran dari Masa Transisi

Salah satu referensi penting dalam sejarah ekonomi Indonesia adalah masa pemerintahan Presiden BJ Habibie. Meski hanya memimpin sekitar 1 tahun 5 bulan (1998–1999), Habibie berhasil menstabilkan kondisi ekonomi Indonesia pascakrisis moneter.

Pada awal pemerintahannya, nilai tukar rupiah sempat berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS. Dalam waktu relatif singkat, rupiah menguat hingga sekitar Rp7.300 per dolar AS. Selain stabilisasi ekonomi, Habibie juga mengambil sejumlah langkah reformasi penting yang memulihkan kepercayaan publik dan pasar internasional.

Beberapa kebijakan strategis pada masa itu antara lain:

  • Independensi Bank Indonesia, melalui pemisahan BI dari kendali langsung pemerintah untuk menjaga stabilitas moneter.
  • Kebebasan pers, melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.
  • Reformasi politik dan pemilu demokratis, yang memungkinkan partisipasi 48 partai dalam Pemilu 1999.
  • Otonomi daerah, melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 untuk meredam potensi disintegrasi nasional.
  • Pembentukan Komnas Perempuan, sebagai respons terhadap berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan pasca kerusuhan 1998.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa stabilitas politik dan reformasi institusi menjadi fondasi penting bagi pemulihan ekonomi.

Politik dan Ekonomi yang Tidak Terpisahkan

Pengalaman masa reformasi menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari stabilitas politik. Konsep pembangunan yang populer pada masa Orde Baru, yaitu Trilogi Pembangunan, menitikberatkan pada:

  1. Stabilitas nasional
  2. Pertumbuhan ekonomi
  3. Pemerataan pembangunan

Dalam konteks demokrasi modern, konsep tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan Caturlogi Pembangunan, dengan menambahkan unsur partisipasi publik dan demokrasi sebagai faktor penting dalam pembangunan nasional.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran ilmuwan politik Lucian W. Pye yang menekankan bahwa pembangunan politik—termasuk demokrasi, administrasi yang kuat, dan partisipasi masyarakat—merupakan prasyarat bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Prabowonomic dan Arah Ekonomi Baru

Konsep Prabowonomic dapat dipahami sebagai pendekatan ekonomi yang menekankan peran negara dalam memastikan kesejahteraan rakyat, dengan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi.

Beberapa prinsip utama yang sering dikaitkan dengan arah kebijakan ekonomi Presiden Prabowo antara lain:

  • Pertumbuhan ekonomi tinggi (sekitar 5–8 persen)
  • Kemandirian pangan dan energi
  • Pemerataan kesejahteraan
  • Peran negara yang kuat dalam mengelola sumber daya strategis

Pendekatan ini juga merujuk pada semangat ekonomi Pancasila, sebagaimana amanat Pasal 33 UUD 1945, bahwa sumber daya alam dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Selain itu, agenda pemberantasan korupsi, penyelundupan, dan praktik ekonomi ilegal juga menjadi faktor penting dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Tantangan Geopolitik dan Energi

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah yang dapat memengaruhi stabilitas energi dunia, Indonesia perlu memperkuat ketahanan energi nasional.

Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:

Jangka pendek

  • Diversifikasi sumber impor energi agar tidak bergantung pada satu kawasan.
  • Memperkuat cadangan strategis energi nasional.

Jangka menengah

  • Revitalisasi dan pembangunan kilang minyak dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor.

Jangka panjang

  • Pengembangan energi terbarukan serta riset teknologi energi berbasis sumber daya domestik.

Upaya ini penting karena stabilitas harga energi sangat berpengaruh terhadap inflasi dan daya beli masyarakat.

Menuju Paradigma Baru

Perubahan global yang cepat menuntut negara-negara untuk menyesuaikan strategi pembangunan mereka. Filsuf sains Thomas Kuhn menyebut perubahan besar dalam cara berpikir ini sebagai pergeseran paradigma—ketika krisis memunculkan pendekatan baru yang lebih relevan dengan realitas zaman.

Dalam konteks Indonesia, paradigma baru pembangunan harus tetap berpijak pada prinsip demokrasi, kepastian hukum, dan tata kelola pemerintahan yang transparan. Kombinasi antara stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, dan partisipasi publik menjadi kunci menuju visi Indonesia Emas 2045.

Pada akhirnya, arah pembangunan ekonomi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh konsep atau narasi, tetapi oleh konsistensi implementasi kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Indonesia juga perlu terus menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, agar mampu berperan sebagai kekuatan penyeimbang di tengah perubahan tatanan dunia yang semakin kompleks.

Editor: Rizki

Terpopuler

May Day 2026 di Kaltim, Gubernur Tekankan Kolaborasi untuk Kesejahteraan Pekerja
Berita
Woow! Kopi Robusta Mangkara Dikembangkan di Tanah Laut
Berita
Hutan Galam Jadi Penambah Indahnya Panorama Alam Pantai JBG
Berita
Di Luar Areal Tambang, JBG Hijaukan DAS Tahura Seluas 3251 Hektar
Berita
Mehbob Menilai Kubu Muldoko Produksi Kebohongan Baru
Berita

You Might Also Like

[OPINI] Di Negeri Kapitalisme: Saat Uang Menentukan Hukum dan Kekuasaan

Makan Bergizi Gratis Jadi Solusi Atasi Masalah Gizi Anak Indonesia

Tertahan di Hormuz: Keterlambatan Diplomasi dan Ujian Politik Bebas Aktif Indonesia

Content Creator dan UMKM di Indonesia Bisa Wujudkan Mimpinya Bareng Dynamic Buzz

20 September Memperingati Hari Apa Sih? Simak Empat Daftarnya

[OPINI] Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur: Saatnya Evaluasi Total Sistem Keselamatan

Menyelaraskan Diri Dengan Perkembangan AI

[OPINI] Mengkonstruksi Ulang Makna Pesan Template Hari Raya

Asah Kemampuan Milenial, Srikandi Ganjar Gelar Public Speaking di Kalsel

[OPINI] FABEM-SM Soroti Polemik Pernyataan Saiful Mujani

TAGGED:ekonomi nasionalHahabienomicPancasilaprabowonomic
Share This Article
Facebook X Flipboard Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Previous Article Jagung Tanam Serentak 2026: Tanah Laut Targetkan Jadi Sentra Jagung
Next Article Langkah Nyata Dukung Pendidikan, Gubernur Kalteng Hibahkan 20 Hektare Lahan untuk Sekolah Garuda

Latest News

Kejari Banjarmasin
Kejari Banjarmasin Musnahkan Barang Bukti Perkara Inkracht
Hukum & Peristiwa Mei 1, 2026
May Day 2026 di Kabupaten Banjar Diisi Bakti Sosial, Pererat Sinergi Pekerja dan Perusahaan
Berita Mei 1, 2026
May Day 2026, Gubernur Kalteng Dorong Sinergi Pekerja dan Dunia Usaha
Berita Mei 1, 2026
Relawan
Jadi Relawan di SPPG Palangka 2, Ibu Rumah Tangga Ini Sebut MBG Bantu Ekonomi Keluarga
KALIMANTAN TENGAH Mei 1, 2026
lenteraKalimantan.comlenteraKalimantan.com
Follow US
© 2026 Lentera Kalimantan. All Rights Reserved. Designed by HCD
  • INFO REDAKSI
  • Contact Us
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • Kode Etik
  • SOP WARTAWAN
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?