lenterakalimantan.com, BANJARBARU – Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), H Muhidin bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan perwakilan mahasiswa turun langsung menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Ring 1 Jalan Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Senin (31/8/2026) sore.
Meski kobaran api di permukaan sudah tidak terlihat, panas dan bara masih tersimpan di lapisan gambut. Kondisi tersebut menjadi perhatian Gubernur Muhidin saat meninjau langsung proses penanganan karhutla bersama Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Dr. Ir. Roy Rizali Anwar dan jajaran Forkopimda Kalsel.
Dalam peninjauan itu, Muhidin didampingi Kapolda Kalsel Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, Danlanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, Sekdaprov Kalsel H. Muhammad Syarifuddin, serta sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD).
Perwakilan mahasiswa juga turut membantu proses pemadaman. Mereka bersama Gubernur dan jajaran Forkopimda melakukan pembasahan sekaligus berdialog mengenai penanganan karhutla yang telah berlangsung selama beberapa pekan.
Gubernur Muhidin, mengatakan kebakaran yang mulai terjadi sejak Jumat sebelumnya masih menyisakan bara di dalam tanah.
“Sejak Jumat kemarin sampai hari ini, api masih belum sepenuhnya padam. Ternyata, apinya berada di dalam tanah atau gambut,” kata Muhidin saat berada di lokasi.
Menurut dia, kondisi lahan gambut membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan menghilangkan api di permukaan. Bara di bawah tanah masih dapat menjalar dan sewaktu-waktu kembali memunculkan api, terutama ketika tertiup angin.
Karena itu, Muhidin mengapresiasi upaya Polda Kalsel yang mengembangkan metode Gambut Injection atau Subsurface menggunakan pipa suntik. Pipa ditancapkan hingga sekitar dua meter ke dalam lapisan gambut untuk mengalirkan air dan cairan pembasah langsung ke bagian tanah yang masih menyimpan bara.
Muhidin bahkan mencoba metode tersebut secara langsung. Ia turun ke area gambut yang masih mengeluarkan asap dan melakukan penyemprotan menggunakan sistem pipa suntik.
Dari percobaan tersebut, panas di dalam tanah diketahui masih tersisa meski intensitasnya telah menurun.
“Tadi, setelah saya memasukkannya sendiri, ternyata di dalam masih terdapat panas, meskipun sudah berkurang. Artinya, tanah gambut di dalam masih menyimpan panas,” ujar Muhidin.
Penanganan juga memanfaatkan bahan pencampur air untuk meningkatkan efektivitas pembasahan gambut. Sebelumnya, Bidlabfor Polda Kalsel telah menguji sejumlah bahan, di antaranya cairan berbasis minyak nabati atau Methyl Ester Sulfonate (MES), surfaktan biodegradable atau wetting agent, serta campuran air dengan formula pati singkong.
Muhidin menjelaskan, bahan pencampur tersebut digunakan agar air lebih mudah meresap ke lapisan gambut dan membasahi bagian yang masih menyimpan panas.
“Jangan sampai kita melihat apinya sudah tidak ada, kemudian menganggap semuanya sudah selesai karena masih ada asap. Ternyata, di dalam gambut ini proses pembakarannya masih bisa menjalar. Kalau kemudian mendapat angin, apinya bisa kembali membesar,” jelasnya.
Untuk mempercepat pembasahan, Pemprov Kalsel mengerahkan mesin pompa yang tersedia di lapangan. Penggunaan deterjen sebagai bahan pencampur air juga diinstruksikan sementara dengan memanfaatkan bahan yang mudah diperoleh.
Namun, Muhidin menyebut formula yang dikembangkan jajaran kepolisian dinilai lebih ekonomis karena penggunaan deterjen membutuhkan biaya relatif lebih besar.
Setelah pembasahan menggunakan metode pipa suntik dan bahan pembasah, kondisi gambut di sejumlah titik mulai lebih dingin. Asap yang sebelumnya keluar dari beberapa titik juga terlihat berkurang.
Untuk mendukung penanganan karhutla, Pemprov Kalsel memiliki sekitar 60 unit mesin pompa yang telah didistribusikan ke sejumlah wilayah rawan, termasuk kawasan Hutan Lindung, Pengayuan, dan Gunung Damar.
Usai meninjau kawasan Jalan Bandara Syamsudin Noor, rombongan melanjutkan peninjauan ke Gunung Damar. Di lokasi tersebut, tim di bawah penanganan Polda Kalsel juga melakukan pembasahan gambut.
Penanganan karhutla dilakukan melalui pembagian wilayah dan tugas. Pemprov Kalsel menangani kawasan Jalan Bandara, sedangkan jajaran Polda Kalsel menangani kawasan Gunung Damar.
Muhidin menilai kolaborasi berbagai pihak menjadi kekuatan penting dalam penanganan karhutla sekaligus pengelolaan kawasan Gunung Damar. Keterlibatan tersebut mencakup unsur kehutanan, organisasi perangkat daerah (OPD), mahasiswa, wartawan, masyarakat, hingga sumber daya manusia yang memiliki tanggung jawab di sejumlah kawasan.
Muhidin juga menyampaikan apresiasi kepada Polda Kalsel yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan di Gunung Damar, termasuk menyediakan konsumsi bagi pihak-pihak yang bekerja di lapangan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PU Dr. Ir. Roy Rizali Anwar mengapresiasi penanganan karhutla yang dilakukan di Kalsel. Menurut dia, hasil penanganan sejauh ini cukup baik, terutama karena didukung inovasi dan kolaborasi antara kepolisian dan pemerintah daerah.
“Alhamdulillah, kita lihat hasilnya cukup bagus dan banyak inovasi yang dilakukan oleh teman-teman Polda Kalimantan Selatan. Kemudian, kolaborasi dengan pemerintah daerah juga berjalan dengan baik,” ujar Roy.
Menurut Roy, salah satu indikator positif terlihat dari penurunan jumlah titik api. Kondisi udara di Kalsel juga dinilai cukup baik sehingga aktivitas penerbangan relatif berjalan lancar.
“Kita lihat cukup banyak penurunan titik-titik api dan udara juga cukup bagus. Kemarin penerbangan juga relatif lebih bagus, tidak ada penerbangan yang tertunda dibandingkan wilayah lain,” katanya.
Roy optimistis teknologi dan temuan baru yang dikembangkan Polda Kalsel dapat terus dikembangkan untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla.
“Kita optimistis dengan temuan-temuan dan teknologi-teknologi baru yang ditemukan oleh teman-teman Polda Kalimantan Selatan dan nanti akan diproduksi lebih besar. Kita optimistis ke depan ini akan semakin baik,” tuturnya.
Dari sisi Kementerian PU, dukungan penanganan karhutla dilakukan melalui jajaran sumber daya air, termasuk Balai Wilayah Sungai (BWS). Dukungan tersebut antara lain berupa pengiriman pompa air serta memastikan distribusi air dari sistem irigasi Riam Kanan dapat mengalir ke lokasi yang membutuhkan, termasuk kawasan Gunung Damar dan sekitar bandara.
“Memastikan aliran air dari Irigasi Riam Kanan bisa terairi sampai ke lokasi-lokasi daerah wilayah, khususnya di Gunung Damar, sekitar bandara, dan di daerah-daerah lainnya,” ujar Roy.
Di sisi lain, Kapolda Kalsel Irjen Pol. Rosyanto Yudha Hermawan mengungkapkan optimismenya terhadap pengembangan cairan berbahan dasar minyak nabati yang digunakan untuk membantu mengatasi persoalan asap dan meningkatkan efektivitas pembasahan gambut.
Saat ini, produksi cairan tersebut masih dilakukan secara terbatas karena terkendala ketersediaan bahan baku. Polda Kalsel telah meminta pengiriman bahan baku dari Surabaya dan Jakarta.
“Hari ini kita masih melakukan produksi secara terbatas karena masih terkendala dalam penyiapan bahan baku. Namun, kita sudah mulai meminta pengiriman bahan baku yang kita beli dari Surabaya dan Jakarta,” ujar Rosyanto.
Kapolda berharap bahan baku tersebut tiba pada pekan ini sehingga produksi dapat ditingkatkan.
Optimisme itu menguat setelah dilakukan uji coba cairan tersebut di lokasi yang sama sehari sebelumnya. Dalam uji coba yang melibatkan sejumlah wartawan, cairan diaplikasikan pada area yang sebelumnya masih mengeluarkan asap.
“Alhamdulillah, kemarin bersama beberapa teman-teman wartawan kita juga melakukan eksperimen di lokasi yang sama, tepatnya di belakang kita ini. Sampai sore ini kita lihat tidak ada asap di lokasi yang kemarin kita uji coba,” katanya.
Hasil tersebut mendorong Polda Kalsel memperluas pengembangan cairan tersebut. Ke depan, kerja sama dengan Pemprov Kalsel juga akan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi.
“Saya juga semakin optimis. Mudah-mudahan ini semakin berhasil dan ke depannya cairan ini bisa kita produksi sebanyak-banyaknya. Nanti kita akan bekerja sama dengan Pak Gubernur dan Pak Prof untuk memperbanyak cairan ini,” harap Rosyanto.
Rosyanto memastikan bahan yang digunakan berasal dari minyak nabati sehingga dinilai relatif aman bagi ekosistem dan tanah. Setelah mengalami degradasi dalam kurun waktu tertentu, bahan tersebut bahkan berpotensi memberikan manfaat bagi tanah.
“Ke depannya, setelah melalui beberapa kali proses atau dalam kurun waktu tertentu dan mengalami degradasi, bahan ini justru dapat menjadi pupuk bagi tanah,” tutupnya.
Penanganan karhutla di Kalsel kini tidak hanya diarahkan untuk memadamkan api yang terlihat di permukaan, tetapi juga memburu sumber panas yang tersembunyi di dalam gambut. Pemerintah daerah, kepolisian, Kementerian PU, masyarakat, mahasiswa, dan berbagai unsur lainnya terus berkolaborasi agar bara yang tersisa tidak kembali menjadi kebakaran besar.
Editor: Tim Redaksi


