lenterakalimantan.com, BARITO KUALA – Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Selatan, Jihan Hanifha, menyoroti kesiapan fasilitas kesehatan primer dalam menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus memastikan program prioritas kesehatan masyarakat, khususnya penanganan stunting, tetap berjalan.
Hal tersebut disampaikannya saat melakukan monitoring ke Puskesmas Mandastana, Kabupaten Barito Kuala, Jumat (4/7) pagi.
Jihan mengatakan, fasilitas sarana dan prasarana kesehatan yang memadai merupakan salah satu fondasi penting dalam memberikan pelayanan publik yang optimal. Selain fasilitas, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) medis yang kompeten, obat-obatan, serta pelayanan yang cepat dan ramah turut menentukan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, Jihan juga menemukan kendala operasional terkait ketersediaan sejumlah obat-obatan primer. Menurutnya, kebutuhan obat di lapangan terkadang belum sepenuhnya terakomodasi dalam daftar Formularium Nasional (Fornas).
“Penurunan stunting jangan sampai terabaikan meski kita sedang berhadapan dengan penanganan dampak bencana asap. Kami juga mendapatkan informasi adanya keterbatasan stok obat-obatan yang termasuk dalam Formularium Nasional (Fornas), karena ternyata kebutuhan di lapangan kerap berada di luar daftar Fornas itu sendiri,” ujar Jihan.
Ia menegaskan, persoalan tersebut akan dibawa ke tingkat pemerintah pusat untuk mendapatkan evaluasi dan penyesuaian regulasi. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar kebutuhan obat di fasilitas kesehatan daerah dapat lebih sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Kami akan berkonsultasi ke Kemenkes mengenai jenis obat apa saja yang masih kurang ketersediaannya, mengingat regulasi ini dievaluasi secara berkala. Semoga hal tersebut bisa kita alokasikan nanti melalui DAK atau anggaran pusat,” tutur politikus Gerindra tersebut.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Mandastana, dr. Rusdiani, mengapresiasi perhatian Komisi IV DPRD Kalsel terhadap kondisi pelayanan kesehatan di wilayahnya.
Ia menjelaskan, Puskesmas Mandastana telah membentuk tim kesehatan khusus untuk menangani dampak karhutla. Sejak awal Agustus hingga saat ini, tercatat sekitar 200 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah ditangani dan tidak memerlukan rujukan ke rumah sakit.
Selain penanganan ISPA, Rusdiani menyebut angka stunting di wilayah kerjanya juga berhasil ditekan hingga 7 persen. Upaya tersebut dilakukan melalui strategi jemput bola dengan mendatangi desa-desa bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam).
Kegiatan monitoring tersebut turut didampingi perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Kuala.
Editor: Tim Redaksi


