lenterakalimantan.com, JAKARTA – Pemerintah menyiapkan langkah besar untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal. Salah satunya melalui penyediaan hingga 200 juta rekening bank yang nantinya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk penyaluran bantuan sosial (bansos).
Rencana tersebut merupakan tindak lanjut dari dorongan Presiden Prabowo Subianto agar semakin banyak masyarakat memiliki rekening perbankan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pembukaan rekening akan melibatkan sejumlah bank, di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI dan Bank Syariah Indonesia (BSI).
“Yang 17 tahun (dibuka rekening, salah satunya untuk) bansos,” kata Airlangga saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Menurut Airlangga, pemerintah menargetkan sekitar 200 juta rekening dapat disiapkan untuk masyarakat.
“Targetnya 200 juta rekening,” tegasnya.
Rekening tersebut nantinya tidak hanya diarahkan untuk menerima bansos. Pemerintah juga menyiapkannya sebagai bagian dari sistem transaksi masyarakat, termasuk untuk penyaluran berbagai program pemerintah.
Langkah ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat penggunaan layanan keuangan digital. Pemerintah menyiapkan QRIS sebagai salah satu bagian dari sistem transaksi yang akan mendukung ekosistem tersebut.
Airlangga mengatakan penguatan akses rekening akan berjalan beriringan dengan peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan OJK bersama BPS dan LPS, tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,61 persen. Sementara tingkat literasi keuangan berada di angka 69,57 persen.
Meski tingkat inklusi sudah tinggi, pemerintah masih melihat adanya ruang untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan pemanfaatan layanan keuangan.
Pasalnya, kepemilikan rekening belum otomatis membuat masyarakat aktif menggunakan layanan perbankan. Rekening perlu didorong agar benar-benar dimanfaatkan untuk transaksi, menabung, menerima bantuan, maupun mengakses layanan keuangan lainnya.
“Yang kedua gateway system-nya jadi menggunakan QRIS. Ini yang disiapkan agar literasi dan juga inklusif keuangan kita bisa mencapai seoptimal mungkin. Lebih tinggi dari yang sudah kita capai. Tentu ke depannya berbagai program, nanti akan dikirimkan kepada rekening-rekening yang disiapkan untuk warga negara tersebut,” ujar Airlangga.
Dengan skema tersebut, penyediaan rekening dalam jumlah besar diharapkan tidak berhenti pada pembukaan rekening. Pemerintah ingin menjadikannya sebagai infrastruktur dasar untuk memperluas transaksi digital, penyaluran bantuan, dan akses masyarakat terhadap sistem keuangan formal.


