Lenterakalimantan.com, SAMARINDA – Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menjadi instrumen untuk mengubah kondisi ekonomi masyarakat.
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menilai peningkatan kualitas pendidikan dapat menjadi salah satu jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan sekaligus meningkatkan produktivitas masyarakat.
Rudy menjelaskan, persoalan tersebut saling berkaitan. Kualitas sumber daya manusia (SDM) berpengaruh terhadap etos kerja, kemudian berdampak pada produktivitas, pendapatan, hingga tingkat kesejahteraan masyarakat.
“SDM yang rendah mengakibatkan etos kerja yang rendah. Etos kerja yang rendah mengakibatkan produktivitas yang rendah,” kata Rudy dalam Sarasehan Mitra Beasiswa “SatuBeasiswa Indonesia” di Jakarta, Rabu (16/9/2026), yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Menurut Rudy, ketika produktivitas masyarakat rendah, kemampuan memperoleh penghasilan juga ikut terbatas. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memperbesar risiko kemiskinan.
Karena itu, ia menilai pendidikan menjadi salah satu titik penting untuk memutus rantai tersebut.
Bukan sekadar mengejar gelar
Rudy juga menyoroti pentingnya pendidikan tinggi dalam membuka kemampuan masyarakat untuk menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Menurutnya, pendidikan hingga jenjang sarjana, magister, maupun doktoral dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk mengembangkan kompetensi dan berkontribusi lebih besar kepada masyarakat.
“Cara memutusnya adalah melalui program pendidikan,” ujarnya.
Pandangan tersebut sekaligus menempatkan pendidikan sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang Kalimantan Timur. Rudy menegaskan penguatan sektor pendidikan menjadi salah satu dasar pembangunan Kaltim menuju 2045.
Angle utama berita ini: bukan sekadar “Gubernur Kaltim bicara pentingnya pendidikan”, tetapi pendidikan diposisikan sebagai alat memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan SDM, produktivitas, dan pendapatan.


